Ustaz Wijayanto Minta Maaf Terkait Penjelasan Soal Kafir, Ada apa?

0
142

Penjelasan Uztaz Wijayanto tentang pengertian orang kafir dalam video yang diunggah Deddy Corbuzier, Selasa (20/6/2017), menuai kontroversi. Dalam video itu, ia menjelaskan panjang lebar tentang pengertian kafir. Ia juga menegaskan ada kesalahan sudut pandang tentang penggunaan kata kafir di Indonesia,

Menurut Ustaz Wijayanto, masyarakat Indonesia biasanya memakai kata kafir sebagai julukan bagi orang jahat yang harus diperangi. “Kafir yang harus dimusuhi itu adalah kafir yang memusuhi. Kalau dia tidak memusuhi ya jangan dimusuhi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ustaz Wijayanto menyebut orang Yahudi dan Nasrani adalah ahli kitab yang termasuk bagian dari kaum kafir. Namun, bukan berarti hanya berbeda agama membuat perpecahan. Sayangnya, penjelasan itu ternyata menuai kontroversi di kalangan warganet. Beberapa dari mereka yang tidak sepenuhnya paham dengan penjelasan itu mengaku kecewa dengan Ustaz Wijayanto.

Guna meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, Deddy lantas mengunggah video berisi permintaan maaf Ustaz Wijayanto. Dalam video itu, ustaz kelahiran Solo 48 tahun lalu menjelaskan secara detail tentang maksud omongannya di video sebelumnya.

Ustaz Wijayanto menyayangkan beberapa akun Instagram yang membuat kesimpulan keliru terkait pendapatnya tentang orang kafir. Pasalnya, beberapa akun itu menuliskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani adalah kafir dan harus dimusuhi. Padahal, ia tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu.

“Jadi harus ditegaskan beberapa akun Instagram itu membuat kesimpulan yang keliru. Saya bilang orang Yahudi dan Nasrani itu ahli kitab, dan ahli kitab itu bagian dari orang kafir. Tapi, perlu diingat, tidak semua orang kafir harus dimusuhi,” tegasnya dalam video yang diunggah, Jumat (23/6/2017).

Menurut Ustaz Wijayanto, semua orang yang tidak beragama Islam adalah kafir. Namun, kafir yang harus dimusuhi adalah al harbi seperti dalam surat Al Mumtahanah ayat 8 dan 9. “Siapapun orang non-muslim yang memusuhi kita boleh diperangi,” tutur dia.

Selanjutnya ada pula kafir yang mendapat perlindungan karena ada perjanjian tertentu. Ustaz Wijayanto lantas menceritakan suatu kaum yang dilindungi Nabi Muhammad dengan perjanjian tidak akan menyerangnya. Kemudian, ada pula kafir dzimmi yang membayar pajak perlindungan juga tidak boleh dimusuhi.

“Maksud saya, jangan sampai semangat permusuhan itu ada hanya karena beda agama. Kita itu beda agama bukan berarti harus berperang. Kalau dia tidak memusuhi kita ya harus diperlakukan adil. Kafir itu kan orang yang tidak mengimani sesuatu, jadi mas Deddy boleh saja mengatakan saya kafir, karena tidak percaya dengan agama Anda. Begitu pula sebaliknya. Tapi, bukan berarti harus bermusuhan,” sambung dia.

Ustaz Wijayanto menambahkan, semua agama sejak zaman Nabi Adam sampai Nabi Muhammad itu adalah Islam. Hal itu telah dijelaskan dalam Alquran surat As Syura ayat 13. Ayat tersebut menerangkan semua agama yang dibawa para nabi adalah sama, yakni Islam. Jadi, agama yang disebarkan Nabi Muhammad adalah penyempurna dari syariat nabi terdahulu.

“Semua agama itu Islam, Nabi Muhammad adalah penyempurna dari ajaran yang dibawa nabi terdahulu. Contohnya, zaman Nabi Musa kalau ada pembunuh maka hukumannya dia harus dibunuh. Tapi sekarang hukumannya adalah qishos dan bertaubat,” paparnya.

Ustaz Wijayanto sedih karena dia dianggap menolak ayat suci dan menistakan agama Islam. Padahal, ia termasuk salah satu dari ribuan orang yang mengikuti aksi damai 212 Desember 2016 lalu.

“Mohon maaf, mungkin saya salah karena bukan manusia sempurna. Mumpung di suasana yang suci, saya mohon maaf. Saya harap tidak ada pemelintiran kata-kata saya,” tandasnya.

Video berdurasi sekitar 12 menit itu sampai Sabtu (24/6/2017), telah ditonton lebih dari 400.000 kali. Meski telah menjelasakan secara detail dan menyampaikan permohonan maaf, video tersebut mendapat tanggapan beragam dari warganet.

“Terima kasih ustaz klarifikasinya. Saya kemarin sempat ga respect lg sama ustaz. Mohon maaf lahir batin,” tulis vyda ajaa.

“Kenapa Islam di Eropa berkembang? Karena di sana udh lewat masanya ngomong kafir. Mereka juga mengedepankan toleransi. Kalau begini terus ga bakal bersatu Indonesia,” sambung muhammad djafar.

“Mungkin ini bedanya Ustaz Wijayanto dengan kita. Dia paham betul cara berkomunikasi agar tidak menyinggung lawan bicaranya. Sekaligus nunjukkin cara berbahasa yang baik. Bukan asal ngomong tapi bikin sakit hati meski yang dikatakan adalah benar,” lanjut Muhammad Antar Jihad.