Tsamara Amany, Perempuan Cantik di Dunia Politik Indonesia

0
1267

Perempuan yang masih berusia 20 tahun itu baru saja mengikuti ujian tengah semester.

“Duduk di sini saja ya,” kata Tsamara Amany sambil menunjuk gazebo di belakang gedung utama kampus tersebut. Hujan deras tak membuatnya hilang senyum. Penampilannya khas mahasiswi pada umumnya, dengan celana jins biru dan kaos jingga lengan panjang.

Satu buah tali tas punggung tergantung di bahunya. Ia kelihatan santai dengan alas kaki tanpa hak. Tapi jangan terkecoh dengan penampilannya ini. Tsamara adalah anak yang serius dan kritis, apalagi menyangkut politik.

Pada akhir bulan lalu, perempuan berponi itu masuk partai politik dengan menjadi anggota Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Tsamara langsung menduduki jabatan cukup bergengsi, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Langkahnya seolah menawarkan kebaruan pada dunia politik di Indonesia. Banyak yang memberikan ucapan selamat dan dukungan. Bahkan tagar #TsamaraGabungPSI sempat menjadi topik yang tren di Twitter.

Di kalangan warganet, Tsamara sudah lama dikenal sebagai generasi milenial yang kerap menyuarakan pandangan politiknya. Ia dengan lantang menyatakan dukungan kepada Joko Widodo ketika pemilihan presiden 2014.

Lalu ketika pemilihan kepala daerah DKI Jakarta beberapa waktu lalu, ia mendukung sang petahana, Basuki Tjahaja Purnama. Ia mulai mengagumi sosok Basuki alias Ahok ketika dirinya magang selama empat bulan di Balai Kota, Jakarta Pusat. “Dia gubernur yang berprestasi,” ujarnya.

Dengan lawan Ahok, yaitu Anies Baswedan, Tsamara mengaku pernah mengidolakan sosok itu. Tapi kemudian ia merasa kecewa dengan pilihan politik Anies. Ungkapan kekecewaan tersebut ia tulis dalam sebuah surat terbuka berjudul Pak Anies, Saya Menyesal. Surat ini sempat menimbulkan pro dan kontra di dunia maya.

Di saat kelompok ekstrem kanan menguat, pilihan politik Tsamara seolah anomali mengingat latar belakangnya yang beragama Islam dan beretnis Arab. “Kita tidak perlu terjebak dalam arus populisme,” kata perempuan yang sudah tak lajang ini.

Kecintaannya terhadap politik tak lepas dari peran orang tuanya. Meskipun mereka berlatar belakang pengusaha, namun hal itu tak membuat ayah dan ibu Tsamara anti politik. Sejak kecil, anak tunggal ini kerap berdebat dengan mereka, lalu saling mendengarkan pendapat, dan mencari solusi bersama-sama.

Selama lebih dari satu jam, perempuan penggemar klub sepak bola Real Madrid itu tampak fasih bicara politik. Ia mengemukakan pendapat dan gagasan soal Pancasila dan Islam moderat dengan fasih, selevel dengan politikus kawakan.

Bicaranya cepat. Kedua tangannya bergerak mengikuti arah pembicaraan. Matanya selalu menatap tajam kepada lawan bicara. Berikut hasil wawancara kami, Sorta Tobing, Muammar Fikrie, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, dengan Tsamara.

Apa pertimbangan kamu masuk parpol?

Sejak aku magang di balai kota DKI Jakarta dan melihat bagaimana kami sebagai anak muda bisa berkontribusi kepada pemerintahan. Aku berpikir memang harus masuk politik kalau ingin mengubah hal-hal seperti ini. Satu orang gubernur bisa mengubah banyak hal.

Jadi, target kamu menjadi gubernur?
Iya, aku pengen banget jadi Gubernur DKI Jakarta. Kerjanya menarik karena punya otoritas penuh dibanding gubernur daerah lain. Anggarannya juga besar jadi bisa berbuat banyak kalau memang niatnya baik.

Mau jadi anggota DPR dulu?
Iya, aku berpikir seperti itu. Kalau mau jadi gubernur berarti harus belajar dari bawah. Usiaku juga belum cukup untuk mencalonkan diri. Jadi, aku mau mencoba masuk DPR pada 2019.

Wakil rakyat yang baik menurut kamu seperti apa?
Menurut aku, yang sering turun ke lapangan. Waktu reses benar-benar dipakai ke daerahnya. Banyak orang sekarang tidak tahu wakil rakyatnya karena ia muncul hanya ketika minta suara.

Target kamu menyasar pemilih seperti apa?
Targetku itu anak muda dan perempuan. Aku selalu bilang, politik itu milik anak-anak muda. Seperti Sukarno dan Sutan Syahrir yang mulai berpolitik saat mereka muda. Ketika umur mereka 40 tahun sudah jadi pejabat publik.

Kamu merasa punya keunggulan karena memiliki pengikut di media sosial yang cukup banyak?
Keunggulan itu tergantung bagaimana kita melihatnya. Aku melihat ada kesempatan untuk menginspirasi anak-anak muda berani terjun ke politik. Seorang Tsamara tidak bisa membawa perubahan apapun kalau tidak dibantu anak muda lainnya.

Kamu optimistis bisa meraih suara pemilih muda?
Sangat optimistis karena melihat antusiasme mereka di sosial media ketika mendengar aku masuk parpol.

Tapi anak muda bukannya cenderung apatis dan apolitis? Bahkan kemunculan awal kamu seperti itu.
Mereka sebenarnya peduli politik tapi tidak mengungkapkan secara nyata. Di kalangan mereka tidak ada yang membicarakan hal itu karena bukan topik yang keren. Kedua, melihat kinerja parpol saat ini membuat orang jadi pesimis.

Politik itu bukan sesuatu yang kotor. Dia bisa dipakai untuk membangun jalan atau korupsi. Kalau merasa pesimis, salah satu caranya ya masuk ke parpol supaya orang-orang yang kotor tersisih dengan sendirinya.

Anak muda apolitis, tapi berkaca pada Pilkada DKI Jakarta kemarin, mereka sepertinya mudah termobilisasi untuk memilih berdasarkan agama dan ras. Kamu melihatnya bagaimana?
Bagi aku, agama tidak cocok dibawah ke ranah publik karena itu hubungan privat dengan Allah. Mungkin ada yang tidak mau memilih seseorang karena bertentangan dengan agamanya. Oke, tidak apa-apa. Tapi jangan hal itu dikampanyekan dan ditebar sebagai ancaman.

Anak muda seperti apa yang bakal kamu jangkau? Yang sering nongkrong di mal atau masjid?
Aku mau menjangkau keduanya. Aku tidak mau mengubah yang religius menjadi tidak religius. Itu hak mereka. Tinggal mengarahkannya ke religius moderat, menerima pendapat, dan mau menjaga Pancasila.

Anak muda yang tidak religius, itu kekuatan lain juga. Mereka bisa diarahkan ke arah nasionalis.

Kalau kamu yang mana? Religius atau nasionalis?
Itu agak berat. Aku masih… mungkin mengklaim diriku sebagai Islam nasionalis dan moderat.

Seperti siapa?
Gus Mus (KH A Mustofa Bisri), Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), dan Buya Syafii (Ahmad Syafii Maarif).

Mereka mempengaruhi pemikiran kamu?
Mungkin tidak langsung karena aku tidak aktif membaca buku-buku mereka. Tapi mereka cukup bisa dijadikan panutan. Aku menganggap Islam sebagai kekuatan bangsa ini dan menjadi motor penggerak Pancasila. Dari dulu yang menjaga Pancasila kan orang Islam.

Jadi, mau Dapil (daerah pemilihan) DKI Jakarta nomor urut berapa?
Itu belum dipikirkan. Harus dilihat nanti. Ha-ha-ha….

Kamu sekarang berseberangan dengan Anies Baswedan?

Pada satu masa aku sempat mengagumi dia. Ngeliat dia hebat ketika menjadi Rektor Universitas Paramadina, lalu juru bicara Presiden Jokowi (Joko Widodo). Tapi ketika dia mulai meninggalkan idealismenya dan pergi ke kelompok-kelompok yang tidak memiliki komitmen kebangsaan, maka dia bukan lagi sosok yang aku kagumi.

Apa yang sempat kamu kagumi dari sosok Anies?
Anies pernah menjunjung tinggi kebangsaan yang ia sebut tenun kebangsaan. Bagi aku waktu itu dia sosok yang moderat. Tapi ketika dia merangkul kelompok ekstrem kanan, menurut aku, sangat mengecewakan. Dia harusnya bisa lebih baik dari itu.

Ada apa dengan kelompok itu menurut kamu?
Sudah jelaslah track record-nya. Mereka masih mempertanyakan dasar negara kita.

Kalau dengan Ahok?
Dia punya kinerja yang cukup baik. KJP (Kartu Jakarta Pintar) memberi akses pendidikan dan kesehatan yang bagi bagi warga. Itu sudah cukup bagi aku melihat dia sebagai gubernur berprestasi. Tapi apa boleh buat dia harus kalah pertarungan di pilkada.

Kamu kecewa?
Tentu, pasti. Banyak orang seperti aku.

Kirim bunga juga ke balai kota?
Belum. Tapi PSI sudah. Aku diwakilkan mereka saja. Ha-ha-ha….

Keluarga mendukung kamu masuk PSI?
Orang tuaku bilang PSI ini cocok untuk aku. Mereka sangat mendukung karena ini parpol baru, isinya anak-anak muda. Jadi, menurut mereka, aku bisa bergerak dengan leluasa.

Di PSI memang isinya semua anak muda?
Kebanyakan. Usia pengurusnya maksimal 45 tahun. Ketua DPW (Dewan Pengurus Wilayah) kami ada yang usianya 20 tahun. Itu menjadi pembeda sendiri dibanding parpol-parpol lain.

Apa jaminan PSI bisa bersih dari korupsi?
Kader-kader kami anak muda, tidak terikat dosa masa lalu dan parpol lama. Ini wadah baru yang membuat politik jadi lebih ramah untuk anak muda.

Berapa target kursi PSI di DPR pada 2019?
Target kami paling tidak 30 kursi.

Target pribadi?
Seperti di Hong Kong, paling enggak 38-40 kursi.

Ingin membuat Umbrella Movement?
Semacam itu. Anak muda masuk DPR. Mungkin tidak mempengaruhi fraksi lainnya. Tapi dengan adanya anak-anak muda yang mendengar aspirasi rakyat, itu bisa jadi kemajuan banget untuk Indonesia.

Tapi di Indonesia untuk memenangkan sebuah pemilihan umum berarti harus menjangkau juga kaum religius dan menengah bawah. Apakah PSI akan melakukan itu?
Pasti.

Tapi sepertinya PSI seolah berjarak dengan mereka. Partai ini seperti untuk kelas menengah saja.
Ya, memang ada kesan yang dibangun seperti itu. Tapi kalau lihat di daerah, kami juga turun ke bawah untuk berkampanye di level grassroot, membantu petani. Bagi aku, aneh kalau PSI dibilang eksklusif. Padahal kami cukup egaliter. Ketemu Sis Grace Natalie (Ketua Umum PSI) santai-santai aja. Coba di parpol lain apakah bisa seperti itu?

Aku menjabat ketua DPP (Dewan Pimpinan Pusat) bukan berarti menjadi bosnya DPW. Ini hanya struktur organisasi saja. Antar kader kami manggilnya sis dan bro.

Kenapa tidak yang lebih Indonesia, bung dan nona?
Bisa. Sis dan bro lebih kekinian saja dan dekat dengan anak-anak milenial.

Sumber dana PSI dari mana?
Kami tidak pada tahap mengeluarkan dana besar-besaran, seperti yang dilakukan partai lain. Pasang iklan juga jarang. Kantor kami di DPW biasanya rumah milik kader. Kami menerima banyak sumbangan, dari acara fundraising dan situs kitabisa.com. Dana kami sebenarnya terbatas tapi bukan berarti tidak bisa berkampanye.

Tokoh yang menjadi panutan kamu?

Sukarno.

Seharusnya masuk PDIP dong.
Ha-ha-ha…. Sukarno itu milik semua golongan, bukan satu parpol saja.

Kalau tokoh yang menginspirasi kamu masuk ke politik?
Jokowi. Aku tuh Jokowiers banget. Pada 2013, ketika banjir melanda Jakarta, aku lihat Jokowi sosok yang punya pendekatan berbeda. Dia blusukan, melakukan brainstroming, setelah itu ambil keputusan. Menurut aku, dia punya struktur yang jelas dalam mengambil keputusan.

Selain itu, ia mengubah cara orang berkampanye. Kalau dulu, orang kampanye pake acara dangdutan dan berorasi di panggung. Sejak Jokowi melakukan blusukan, itu menjadi standar kampanye zaman sekarang. Ia menciptakan standar baru, pendekatannya Jawa banget, dengan wajah mayoritas orang Indonesia.

Ndeso maksudnya?
Yah ndeso… tapi dia sangat pintar. Dia menyelesaikan masalah dengan santai tapi jelas. Itu yang membuat dia menjadi sosok yang luar biasa hebat. Karier politiknya juga cepat. Jokowi memberikan kebaruan di politik Indonesia.

Dengan hasil Pilkada DKI Jakarta seperti ini, kamu yakin di 2019 Jokowi bakal terpilih kembali menjadi presiden?
Pendapat pribadi aku, belum ada tokoh yang lebih baik dari dia.

Tapi pilihan masyarakat kan tidak ada yang tahu.
Betul. Kita harus kembali ke objektivitas orang. Yang terjadi di pilkada DKI Jakarta itu irasionalitas. Program kerja tidak dianggap sebagai indikator. Tapi bagi aku ini bukan soal agama dan ras. Pak Jokowi juga dibenci oleh sekelompok orang. Padahal dia wajah mayoritas, beragam Islam dan Jawa.

Kalau melihat situasi sekarang, menurut kamu apa yang terjadi?
Ini terjadi di dunia sebenarnya. Kelompok ekstrem kanan menguat. Kalau diremehkan nanti kayak Trump (Presiden Amerika Serikat Donald Trump). Menurut aku, Pak Jokowi belum terlambat. Pilkada DKI Jakarta bisa menjadi wake-up call buat dia.

Kita juga harus menyadarkan bahaya ini ke masyarakat, apa jadinya kalau ekstrem kanan menang. Ini bisa kayak Suriah. Apa kita mau seperti itu?

Kamu masih melakoni hidup seperti anak muda? Ke mal, salon, atau nonton?
Masih, masih. Aku kadang main The Sims. Aku juga nonton serial Turki, Magnificent Century, tentang kerajaan Ottoman di era Raja Sulaiman. Kalau sudah bosan dengan politik, nonton ini 400 episode enggak terasa. Ha-ha-ha….

Hobi kamu?
Baca, nonton, dan menulis. Aku sudah membaca 10 bukunya Sukarno. Untuk menulis, dia menjadi panutan aku karena tulisannya seperti gayanya berbicara. Aku mencoba menulis seperti itu.

Suka mendengar musik?
Aku enggak up-to-date banget soal musik. Banyak teman-teman bilang, jangan-jangan aku tahunya cuma Indonesia Raya. Ha-ha-ha….

Kurang suka seni kalau begitu?
Mungkin kurang. Tapi baru-baru ini aku baca kata-katanya Pramoedya Ananta Toer. Dia bilang, orang kalau bekerja apa pun tapi tidak suka sastra seperti kera yang bekerja. Aku langsung tanya ke teman ada saran buku-buku sastra apa yang bagus. Ha-ha-ha….(Sorta Tobing/Berita Gar)

Berikut foto-foto Tsama Amany;