Terduga Pelaku Dilepas, Kasus Air Keras Novel Baswedan Masih Buram

0
73

Satu bulan berlalu mulai sejak momen penyiraman air keras pada penyidik senior KPK Novel Baswedan berlangsung, pelaku tidak kunjung tertangkap. Pelaku bebas berkeliaran, sesaat Novel sampai saat ini masih tetap berbaring dalam perawatan tempat tinggal sakit di Singapura.

Kakak kandung Novel, Taufik Baswedan kecewa dengan kemampuan polisi. Dia menilainya kemampuan Kepolisian dalam soal ini cukup lamban.

” Ya kita saksikan kalau perubahan perkara ini begitu lambat walau sebenarnya saat ini telah sebulan, namun pelakunya belum tersingkap, ” kata Taufik pada merdeka. com lewat pesan singkat, Kamis (11/5).

Walau sebenarnya, tambah Taufik, Presiden Joko Widodo telah memberikan instruksi pada Kepolisan untuk mengusut masalah ini dengan cara cepat supaya pelaku dapat selekasnya tertangkap. Taufik juga memperbandingkan perlakuan masalah adiknya itu dengan penggerebekan teroris.

” Di perkara seperti teroris dengan bukti yang lebih minim polisi bisa membuka dengan cepat, walau sebenarnya dalam masalah seperti ini kecepatan begitu utama terlebih dalam masalah teror pada Novel ini diketemukan banyak alat bukti, ” katanya.

” Jadi kita lihat polisi tak ada tekad untuk membuka perkara ini, ” tekannya.

Sampai saat ini Kepolisian masih tetap berupaya membuka masalah yang berlangsung 11 April tempo hari. Sebelumnya setelah mengecek dua orang, tempo hari polisi kembali mengecek seseorang lagi berinisial AL.

AL dicurigai sebagai pelaku penyiraman. Keraguan itu berdasar pada photo AL yang diserahkan segera oleh Novel, waktu beberapa anggota polisi bertandang ke Singapura.

Polisi lalu mengecek posisi tanda HP AL waktu Novel disiram air keras, untuk membuka apakah waktu peristiwa AL ada di tempat.

” Tengah kami cek CDR, handphone, waktu peristiwa dimana kami cek. Jadi kami masih tetap bekerja. Ini belum di pastikan ini pelaku atau bukanlah. Namun kami masih tetap memahami dia dimana waktu peristiwa, tengah apa dan sebagainya, ” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono.

AL adalah saudara dari H dengan kata lain Hasan. Terlebih dulu Hasan berbarengan M dengan kata lain Mukhlis yang dikatakan sebagai informan polisi sempat juga di check.

Hasil kontrol Hasan serta Mukhlis, keduanya tidak ada di TKP waktu peristiwa tanggal 11 April. Hasan di ketahui ada di Bekasi, sedang Mukhlis di Tambun.

” AL serta M ini saudara dahulu di Ambon serta ketemu di Jakarta, ” sambungnya.

Argo bercerita, pada Januari lantas AL pernah berjumpa dengan Hasan. ” Lantas mereka ketemu Kalibata mereka photo berbarengan dengan si Hasan. Photo itu biasalah saudaranya bebrapa photo. Nah photo itu ada di korban, pada akhirnya diberikan ke penyidik, ” kata Argo.

Polisi belum dapat memperdalam pernyataan Novel tentang photo AL. Sebab polisi belum diizinkan mengecek Novel.

” Jadi hingga sekarang ini kami belum mengecek korban di Singapura. Korban baru ngasih photo itu. Kami belum pernah bertanya panjang-panjang. Kami tidak di beri izin dokter, ” tuturnya.

Walau sekian, penyidik bakal menjadwalkan lagi kembali untuk mengecek Novel kembali manfaat tahu asal muasal photo itu.

Dalam soal ini, lanjut Argo, pihaknya tidak dapat berspekulasi masalah bagaimana caranya Novel memperoleh photo AL. Apakah sangkaan Novel punyai tim investigasi pribadi atau tak.

” Ya kelak, kelak sesudah kami check korban. Karna tempo hari kami belum dapat check. Karna yang di sampaikan cuma photo seperti itu. Kami masih tetap memahami dari korban, ” ujarnya.

Dalam kontrol, AL yang bekerja sebagai sekuriti spa mengakui waktu peristiwa penyiraman air keras tengah ada di rumannya, daerah Pasar Minggu.

” Diakuinya waktu kerja, pergi diantar saudaranya ke Stasiun Pasar Minggu. Turun di Sawah Besar serta jalan kaki ke kantor. Waktu pulang juga AL diantar rekanan kerjanya ke stasiun. Beliau yaitu sekuriti di satu spa di Jakarta. Jadwalnya kerja pergi jam 15. 00 pulang jam 00. 00 WIB. Bila masuk 17. 00 WIB kembali sesudah tamu semuanya pulang, ” terang Argo.

” Kebetulan AL ini mulai sejak 10 April cocok off, dirumah nonton TV berbarengan saudaranya. Lalu besoknya tanggal 11 itu AL, jam 12 siang masuk kantor, ” sambungnya.

Tetapi polisi tak dan merta memercayainya. Polisi bakal lanjut mengecek keluarga, tempat kerja AL bahkan juga HP punya sekuriti itu.

” Kami bakal cek alibinya dia waktu tanggal 10 April itu bener tidak dia libur serta dirumah. Kami check saudaranya, bener tidak dia ada di situ. Kami cek juga ditempat kerjanya, kan ada buku mutasi, kami cek dia bener tidak dia kerja di situ. Kami bakal cek juga orang orang sekitaran dia ada tidak dirumah, ” ujarnya.

Sesudah melalui rangkaian kontrol, AL pada akhirnya dilepaskan. Pertimbangan polisi karena AL tak dapat dibuktikan.