Tangkap Dalang di Balik Isu SARA?

0
189

Peneliti senior, Saiful Mujani melihat adanya kesan bahwa sikap anti Kristen dan Cina akhir-akhir ini sedang mengemuka. Katanya, hal ini beriringan dengan hiruk-pikuk politik yang sedang berlangsung di tanah air.

“Kok kesan yang mengemuka sekarang anti Kristen dan anti Cina begitu heboh. Kenapa?” tanya Saiful lewat Tweet-nya dengan akun @saiful_mujani, Minggu (25/12/2016) malam.

Padahal, lanjut pemilik lembaga survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) itu, berdasarkan data survey nasional November 2016, intoleransi pada warga Tionghoa dan Kristen relatif lebih kecil dibanding intoleransi terhadap Negara Islam Irak dan Siria (ISIS).

Berdasarkan data yang ditunjukkan, kelompok yang paling tidak disukai oleh masyarakat yaitu ISIS dengan prosentase sebesar 25,5 persen. Kelompok Lesbian, Biseksual, dan Transgender (LGBT) 16,6 persen, Komunis 11,8 persen, Yahudi 5,0 persen.

Sementara itu, di urutan ke lima Kristen 2,3 persen, Front PembeIa Islam (FPI) 1,6 persen, Wahabi 1,1 persen, Cina 0,8 persen, Ahmadiyah 0,7 persen, Syiah 0,6 persen, Budha 0,5 persen, Hindu 0,4 persen, Katolik 0,3 persen, Konghucu 0,2 persen, Islam 0,1 persen dan nama kelompok lainnya 0,4 persen.

“I suspect hiruk pikuk anti Kristen dan anti Cina sekarang ini di antaranya lebih karena mobilisasi politik,” ujar Saiful.

Menurut dia, jika kegaduhan intoleransi itu disebabkan karena adanya mobilisasi politik, maka perlu dicari siapa dalang dari semua itu.

“Siapa? Elite, bukan rakyat biasa. Elite yang sedang kontestasi politik dan agen atau resource mobilization organization,” tutur Saiful.

“Elite politik dan agen mobilisasi itu nampaknya sumber kegaduhan intoleransi itu. Wallahualam,” Saiful menambahkan.