Sudah Benarkah Keputusan Agus Yudhoyono Tinggalkan TNI dan Maju Pilgub?

0
1125

Dalam usia 38 tahun, Agus Harimurti Yudhoyono memutuskan mundur sebagai perwira menengah TNI untuk berlaga di Pilkada DKI Jakarta 2017. Berpasangan dengan Sylviana Murni (57), ia diharapkan mengungguli petahana Basuki Tjahaja Purnama (50)-Djarot Saiful Hidayat (60), dan pasangan Anies Baswedan (47)-Sandiaga Uno (47). Inilah langkah awal cagub termuda menuju Balai Kota Jakarta.

Munculnya nama Agus Harimurti Yudhoyono dalam Pilgub DKI 2017-2022, sarat diwarnai drama. Nama putra sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyomo itu bahkan baru diumumkan, Jumat (23/9), sekitar pukul 03.00 WIB, karena menunggu pengunduran dirinya sebagai perwira menengah TNI.

Agus dipasangkan dengan Sylviana Murni, birokrat karier Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang sebelumnya diincar Sandiaga Uno. Agus-Sylviana diharapkan Poros Cikeas menjadi kuda hitam untuk menggerus elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama (petahana) yang selama ini belum tertandingi di berbagai survei.

Mengutip Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan, nama Agus tidak dimunculkan oleh Partai Demokrat, melainkan tiga partai lain dalam Poros Cikeas : PAN, PKB, dan PPP. Hinca mengatakan, Partai Demokrat sama sekali tak membayangkan untuk mencalonkan Agus, karena yang bersangkutan adalah salah seorang perwira terbaik TNI AD yang kariernya tengah menanjak.

Tersiar kabar, ibunda Agus, Kristiani Herawati (Ani Yudhoyono) sempat tak sepakat dengan gagasan pencalonan putranya. Namun setelah melalui pembicaraan panjang, Agus akhirnya bersedia melepas karier militernya untuk memimpin Jakarta.

Perwira Cemerlang

Lahir di Bandung, Jawa Barat, 10 Agustus 1978, Agus merupakan lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang (1997). Ia kemudian melanjutkan jejak ayahnya masuk ke Akademi Militer. Aktivitasnya dalam setiap kegiatan taruna terbilang menonjol. Prestasinya meraih penghargaan Tri Sakti Wiratama – pada tingkat I dan II – mengantarkan dirinya terpilih menjadi Komandan Resimen Korps Taruna Akademi Militer (1999). Suami artis Annisa Pohan itu bahkan tercatat sebagai lulusan terbaik dengan menyandang gelar Adhi Makayasa (2000).

Lulus dari Akmil, ia lulus terbaik Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri dan lulus terbaik Kursus Combat Intel (2001). Saat menjabat Komandan Peleton di Batalyon Infanteri Iintas Udara 305/Tengkorak, jajaran Brigif Linud 17 Kostrad, ia diberangkatkan ke Aceh untuk melakukan Operasi Pemulihan Keamanan (2002). Ayah seorang anak itu juga pernah dikirim dalam Kontigen Garuda XXIII-A ke Lebanon (2006). Saat ini Agus menjabat sebagai Komandan Batalyon Infantri Mekanis 203/Arya Kemuning.

Selain karier militer yang baik, Agus memiliki pendidikan yang cemerlang. Ia mendapat gelar Master dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University (NTU-2005). Agus bahkan dianugerahi Nanyang Outstanding Alumni Award dari almamaternya (2013). Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi NTU atas kontribusinya dalam bidang militer kepada masyarakat, yang khusus diberikan untuk alumni berprestasi yang berusia di bawah 40 tahun.

Selepas itu Agus menempuh tugas pendidikan militer setingkat Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Command and General Staff College (CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Ia menuntaskan pendidikannya selama satu tahun. Agus lulus pada 12 Juni 2015 dengan IPK sempurna : 4,0.

Di saat yang bersamaan, Agus berhasil menyelesaikan program Master dalam Kepemimpinan dan Manajemen (MA in Leadership and Management) dari George Herbert Walker School di Webster University, juga dengan IPK 4,0.

Sama-sama Berpeluang

Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat Ilham Bintang berpendapat, pasangan Agus-Sylvi, Ahok-Djarot, dan Anies-Sandiaga memiliki peluang yang sama di Pilgub DKI 2017, mengingat ketiganya relatif belum memiliki pengalaman dipilih langsung oleh rakyat. Ahok menjadi wagub (dan kemudian gubernur) karena ditarik oleh gerbong Joko Widodo pada Pilgub DKI 2012 silam. Saat itu bahkan ada ungkapan, dipasangkan dengan sandal jepit pun Jokowi pasti menang. Ahok dua tahun terakhir ini ibarat ketiban rezeki nomplok yang ditinggalkan Jokowi dengan duduk manis jadi Gubernur DKI. Begitu pun dengan Djarot, karena didudukkan oleh PDI-P di posisinya sekarang.

Ilham meyakini, munculnya Agus merupakan kalkulasi SBY yang dikenal jago analisa dan ahli strategi. Kalau pun kalah, Agus diprediksi akan jadi Ketua Umum Partai Demokrat. Posisi ini akan membuatnya sejajar dengan Panglima TNI dan Presiden.

Pilkada DKI ini momentum Agus launching dengan biaya murah. Kalau menang, maka terbuka jalan dia menjadi presiden, sekaligus mengakhiri dominasi politikus tua yang selama ini cuma“nyampah-nyampahin” negeri ini. “Jadi, jangan melecehkan kemampuan Agus seolah anak ingusan yang gampang diatur bapaknya. Bahwa Pak SBY menopang dia dengan pelbagai analisis, jelaslah itu bagian dari kewajiban seorang ayah,” kata Ilham.

Pilgub DKI Jakarta masih setahun lagi. Sepanjang masa itu banyak hal yang mungkin terjadi. Bisakah pasangan Agus-Sylvi mengungguli kandidat lain? Kita tunggu saja.