Suap Mesin Pesawat, Eks Dirut Garuda Emirsyah Satar Terima Rp 26 Miliar

0
155

Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara suap yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Emir diketahui menerima suap terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia. Nilai suap itu lebih dari Rp 20 miliar.

“ESA (Emirsyah Satar) menerima suap dari tersangka SS dalam bentuk uang dan barang, yaitu dalam bentuk uang 1,2 juta euro dan 180.000 dollar AS atau senilai Rp 20 miliar,” ujar Wakil Ketua KPK Laode Syarif dalam jumpa pers di kantor KPK, Kamis (19/1/2017).

Laode menuturkan, KPK juga menemukan suap dalam bentuk barang yang diterima Emirsyah Satar. Nilai barang itu mencapai 2 juta dollar AS yang tersebar di Singapura dan Indonesia.

Untuk menangani perkara ini, KPK turut bekerja sama dengan penegak hukum negara lain karena kasus korupsi ini lintas negara. Perantara suap, yakni SS, diketahui memiliki perusahaan di Singapura.

KPK menyatakan bahwa perkara ini murni perkara individu, bukan korupsi korporasi. Oleh karena itu, PT Garuda Indonesia dilepaskan dari perkara hukum ini.

Dalam perkara ini, Emirsyah disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

Sedangkan SS disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Laporan Kekayaan Emirsyah Satar 4 Tahun Lalu Rp 48 M

Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar tercatat sudah dua kali melaporkan harta kekayaannya ke KPK. Laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) dibuat saat Emirsyah menjabat Dirut PT Garuda Indonesia pada 2010 dan 2013.

Dilihat dari situs LHKPN, Emirsyah pertama kali melaporkan harta miliknya pada 1 Juli 2010. Saat itu total harta milik Emirsyah tercatat Rp 19.963.868.866.

Emirsyah kemudian melaporkan kembali harta miliknya pada 5 Desember 2013. Pada laporan kedua ini, harta Emirsyah berjumlah Rp 48.738.749.245,00.

Dalam LHKPN 2010, harta Emirsyah dalam bentuk harta tidak bergerak, yang terdiri dari tanah dan bangunan, berjumlah total Rp 15.565.142.000. Sedangkan pada LHKPN 2013, harta tidak bergerak Emirsyah berjumlah 42.577.357.847,00. Terdapat penambahan dalam bentuk bangunan di Singapura dengan nilai Rp 12.018.867.197 serta bangunan di Melbourne, Australia, senilai Rp 10.806.963.650, yang keduanya dicatat sebagai hasil sendiri. Selain itu, ada tambahan dalam bentuk tanah dan bangunan di Jakarta Selatan yang berasal dari hibah senilai Rp 3.372.875.000,00.

Harta Emirsyah juga ada dalam bentuk harta bergerak atau alat transportasi dengan total nilai Rp 955.000.000 pada 2010 dan pada 2013 berjumlah Rp 1.788.000.000. Ada tambahan satu mobil merek Mercedes-Benz buatan 2011 senilai Rp 818.000.000, yang tercatat berasal dari hasil sendiri.

Ia juga memiliki harta dalam bentuk logam mulia, batu mulia, barang antik, dan harta bergerak lainnya yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai Rp 746.235.000 pada 2010 dan pada 2013 berjumlah Rp 1.456.000.000,00. Dalam LHKPN itu pun disebutkan Emirsyah memiliki surat berharga senilai Rp 350.000.000 pada 2010, yang meningkat menjadi Rp 1.528.276.750.

Sedangkan hartanya dalam bentuk giro dan kas pada 2010 berjumlah Rp 3.605.735.656 dan USD 429.151, yang kemudian menurun menjadi Rp 2.744.293.234 dan USD 223.542. Emirsyah juga memiliki utang sebesar Rp 1.258.243.790 dan USD 242.735 pada 2010, yang kemudian meningkat pada 2013 menjadi Rp 1.355.178.586 dan USD 1.156.299.

KPK sendiri telah menetapkan mantan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo sebagai tersangka kasus suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat. Emirsyah diduga menerima suap dari Soetikno yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.