Sosial Media Jadi Ajang Saling Sindir Terkait SARA

0
202

PADA 2012, ”aktivis” Facebook heboh karena kemunculan fanspage yang memarodikan Habib Rizieq sebagai pemimpin Front Pembela Islam. Apalagi kemudian muncul fanspage tandingan yang serupa. Muatan fanspage ”Anda Bertanya Habib Rizieq Menjawab” yang lebih dahulu muncul hampir 90 persen berisi parodi dari aksi sampai ucapan pemimpin atau anggota FPI.

Karena berisi parodi, otomatis jarang ada status yang serius. Meski bila dianalisis ada sisi lain yang menyentil atau menyindir FPI. Pengikut halaman itu 196.111 orang. Dalam keterangan di fanspage itu tertulis: ”Fej ini 100% asli farodi demi melawan kebahlulan, fanatisme sempit, kekakuan berfikir, ultra-faranoid & femujaan kekerasan, dgn cara unyu sekaligus barokah.”

Tak diketahui siapa sang pembuat. Kemudian hadir lagi satu fanspage dengan nama serupa, tetapi muatan berbeda. Bila fanspagepertama bersifat parodi, fanspage kedua justru bermuatan serius serta berbagai informasi berkait sepak terjang organisasi Islam itu.

Halaman itu diikuti 2.210 orang. Fanspage kedua berisi informasi ”Bukan fanpage resmi hny share2 dr pecinta ulama & sbg counter fanpage buatan musuh Islam dengan nama sama. KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i: Kami mengajak segenap umat Islam dan organisasi yg berbasis Islam untuk mendukung keberadaan dan perjuangan FPI.” Ada empat fanspage dengan nama sama: Anda Bertanya Habib Rizieq Menjawab.

Dua fanspageterakhir diikuti 4.861 orang dan 4.977 orang. Empat fanspage itu sama-sama berisi kegiatan Rizieq. Ada yang membuat meme foto pertemuan Rizieq dan Ahok. Komentar para netizenpun menggunakan bahasa yang biasa dipakai Rizieq. Misalnya, pelafalan ”p” menjadi ”f”. Ada pula akun Zulkifli Djanan Machmoed yang menanggapi secara ”serius”.

Sebab, dia menyatakan beberapa kali menerima pesan masuk dari teman-temannya, baik yang beragama Islam maupun bukan, yang mempertanyakan apakah akun itu asli milik Rizieq. ‘’Saya sebetulnya malas untuk menjawabnya, karena saya bukan FPI dan tidak ada urusannya dengan Habib. Biasanya pertanyaan itu saya jawab singkat lewat inbox: BUKAN!’’ katanya.

Teman-temannya pun mengusulkan dia membuat tulisan yang menginformasikan halaman itu bukan milik Habib Rizieq agar tidak menimbulkan fitnah. Zulkifli pun menjawab.

“Pertama, itu bukan urusan saya!! Mestinya yang punya kewajiban menjelaskan adalah FPI sendiri. Kedua, kalau saya menginformasikan lewat FB maka mereka yang tidak tahu menjadi tahu dan akan ikut-ikutan mengklik ‘SUKA’/’LIKE’ Page. Karena sampai detik ini FB juga tidak menyediakan tombol TIDAK SUKA yang bisa dimunculkan angkanya.”

Berkesan Melecehkan

Zulkifli menuturkan sebagian umat Islam, terlebih umat beragama lain, tak menyukai sepak terjang tokoh itu. Namun kenyataannya tak sedikit pula umat Islam masih menghormatinya sebagai tokoh agama yang layak dijadikan anutan. Karena bagaimanapun, yang Rizieq sampaikan saat berorasi atau ceramah sebagian besar ajaran Islam.

Terlepas dalam implementasi alias praktik di lapangan justru bisa diartikan merendahkan dan menodai ajaran Islam. ‘’Begitulah yang saya rasakan dari tulisantulisan yang ada di Page Anda Bertanya Habib Rizieq Menjawab. Olok-olok, pencelaan dan hinaan yang sebetulnya hanya ditujukan kepada sang Habib, mau tidak mau, mengenai juga kepada ajaran agama Islam yang diyakini mayoritas penduduk Indonesia.

Termasuk juga terkesan melecehkan gerakan kemanusiaan yang sedang dilakukan oleh sebagian besar umat Islam kepada korban kebiadaban Zionist Israel,’’ tulis dia. Bukan itu saja, kata dia, ada nuansa rasis yang amat kental dari si pembuat halaman dan sebagian pendukungnya. Khususnya pada saudara-saudara berdarah Arab selalu menggunakan logat kearab-araban setiap menulis status dan komentar.

Tentu saja nuansa provokasi terhadap umat beragama sangat jelas bisa dirasakan di halaman itu. ‘’Saya tidak tahu, apakah kondisi itu sengaja diciptakan orang-orang yang memang tidak suka ada kerukunan dan kedamaian antarumat beragama di Indonesia.

Ataukah itu murni sekadar guyonan atau parodi yang dilakukan ‘orang bodoh’ yang sangat antipati kepada sang habib ataukah memang upaya sengaja dari ‘orang-orang sakit’ yang benci dan fobia terhadap Islam dengan menjadikan Habib sebagai ‘sasaran antara’ untuk memudahkan memuaskan nafsu jahat menebar kebencian terhadap Islam?” tutur dia.

Dia menyatakan siapa pun sang tokoh agama itu, entah habib, kiai, ustadz, pendeta, pastor, biarawan, atau biarawati, ketika diolok-olok dan dilecehkan cara pandang dan sepak terjangnya yang tak sejalan, sedikit-banyak disadari atau tidak berisiko bersinggungan dengan ajaran agama sang tokoh.

‘’Lebih parah lagi, mau tidak mau, bisa menyinggung perasaan umat beragama yang seagama dengan tokoh yang dijadikan bahan ledekan,’’tandas dia. Beberapa waktu lalu, dunia maya kembali heboh atas kehadiran ustadz parodi Abu Janda al- Boliwudi. Dialah pengasuh pondok pesantren online Al-Faceboki.

Kehadiran Abu Janda al- Boliwudi menjadi perhatian masyarakat atau netizen lantaran unggahan kontroversial bertema agama di halaman Facebook: www.facebook. com/ustadabujanda. Unggahan itu memunculkan tanggapan pro dan kontra dari masyarakat, khususnya umat Islam.

Tak sedikit orang mengira Abu Janda Al Boliwudi adalah ustadz betulan. Sebab, beberapa kali dia mengutip ayat Alquran dan hadis Nabi dalam unggahan atau saat membalas komentar di fanspage-nya. Beberapa netizen muslim yang penasaran menelusuri identitas ustadz parodi itu. Akhirnya diketahui, namanya Permadi Arya.

Ustad Abu Janda al-Boliwudi juga dikenal piawai membuat grafis dakwah bermuatan kontroversial. Meski berperan sebagai ustadz parodi, Abu Janda sering menghubungkan fakta sejarah dan ayat Alquran serta hadis. Namun memang kebannyakan unggahan Abu Janda al-Boliwudi mengusung tema yang nyata berlangsung di masyarakat.