Sidang Kasus Ahok, Kearah Manakah Islam di Indonesia Dewasa ini?

0
242

Dalam tempo beberapa minggu, kelompok-kelompok Islam mampu memobilisasi massa dari berbagai lapisan masyarakat setelah mencuat kasus dugaan penistaan agama oleh gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang sering disapa Ahok.

Gelombang demonstrasi dan kemudian doa pun digelar, termasuk acara yang digelar di Monas pada Jumat, 2 Desember silam.

Dan pada Senin (12/12) diselenggarakan pula gerakan salat Subuh berjamaah secara nasional. Di Solo, Jawa Tengah, acara itu dilaporkan ditambah dengan deklarasi tiga hal, termasuk memboikot barang belanjaan dari pasar modern atau swalayan.

Pengamat politik Islam yang juga wakil ketua umum Dewan Masjid Indonesia, Masdar Masudi, berharap gerakan salat Subuh diharapkan murni dilandasi alasan agama, bukan karena perkara yang secara sosial mungkin mengemuka.

“Memang banyak pihak dan juga umat Islam sendiri membacanya ada kecenderungan untuk lebih menunjukkan eksistensi dengan berbagai ibadah yang sesungguhnya ibadah itu sesuatu yang sangat pribadi, akan tetapi diorganisir untuk mengatakan sesuatu yang sifatnya keluar,” jelas Masdar.

Ditambahkan oleh Masdar Masudi bahwa umat Islam belakangan cenderung untuk lebih menunjukkan eksistensi dengan berbagai acara ibadah. Ia sendiri mengaku masih melakukan penelahaan mengapa ekistensi itu perlu ditegaskan.

“Apakah karena ada perasaan terganggu atau bagaimana. Tapi menurut saya, itu kurang pada tempatnya karena Islam di Indonesia mayoritas, mayoritas yang sangat besar, mungkin lebih dari 80%.

“Artinya, umat Islam tidak perlu merasa inferior (rendah diri) dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara karena umat Islam ini secara kuantitas mayoritas mutlak,” jelas Masdar.

Yang perlu ditonjolkan, lanjutnya, adalah suasana kedamaian.

Pengamat Islam dari UIN Sunan Kalijaga, Profesor Noorhaidi Hasan, berpendapat pada umumnya arah Islam di Indonesia masih cukup postif.

‘Merasa terancam’

Hal itu terkuak dari hasil penelitian yang dilakukannya pada 2013-2014 yang menyebutkan resistensi masyarakat terhadap penggunaan jihadisme dan penggunaan simbol-simbol agama untuk kekerasan tinggi.

“Patokan saya itu tapi memang angka intoleransi cukup besar, karena pertama, banyak orang Muslim di Indonesia mengidap apa yang kami sebut sebagai merasa terancam. Perasaan terancam juga berhubungan dengan kepercayaan mereka yang cukup tinggi terhadap teori konspirasi.”

Dijelaskan oleh Profesor Nooraidi bahwa dalam teori konspirasi yang berkembang, mereka meyakini ada kekuatan-kekuatan besar yang mengancam Islam di Indonesia.

Ada pun teori konspirasi itu leluasa dimainkan oleh aktor-aktor politik tertentu untuk meningkatkan rasa keterancaman umat.

“Kalau rasa keterancaman meningkat seperti kemarin dipicu dengan kasus Ahok, karena Ahok Kristen, Cina, nah ini dianggap bisa mengancam arah masa depan Indonesia, lalu intoleransi kemudian kembali meningkat dan orang bisa dimobilisasi untuk itu,” jelasnya.

Yang patut digarisbawahi, menurut Profesor Nooraidi, perkembangan tersebut tidak berarti bahwa dukungan masyarakat terhadap kelompok pejihad atau gerakan radikal besar, meskipun ada upaya-upaya kelompok jihadis untuk memanfaatkan keadaan tersebut.