Rupiah Anjlok sampai level terburuk, ini penyebabnya

Detikfokus.com – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) bergerak melemah di perdagangan hari ini, Selasa (3/9). Tadi pagi, Rupiah dibuka di Rp 14.745 per USD dan saat ini terperosok ke level Rp 14.816 per USD.

Dikutip dari Bloomberg, Rupiah melemah semenjak akhir pekan lalu. Penutupan perdagangan sebelumnya, Rupiah berada di Rp 14.710 per USD.

Berdasarkan laporan Reuters, BI akan intervensi dalam valuta asing dan pasar obligasi. Pada awal pekan ini, nilai tukar Rupiah ke posisi 14.777 per USD. Level itu terlemah sejak 1998. Nilai tukar Rupiah melemah terhadap USD sekitar 8,93 persen sejak awal tahun.

Pada 2018, rupiah menjadi salah satu mata uang berkinerja buruk di regional. Analis menilai, nilai tukar Rupiah yang tertekan itu didorong defisit neraca transaksi berjalan dan kekacauan di pasar negara berkembang yang disebabkan krisis keuangan Turki.

“Kepemilikan asing yang tinggi pada obligasi ditambah dengan utang Dolar Amerika Serikat perusahaan Indonesia yang meningkat juga membuat (Rupiah) cenderung melemah,” ujar Ekonom Mizuho Bank, Vishnu Varathan, seperti dikutip dari laman CNBC, Senin (3/9).

Menurut Moodys, sekitar 41 persen utang pemerintah dalam mata uang asing. Jika Rupiah terdepresiasi lebih lanjut akan membuat utang akan lebih mahal untuk kembali dibayar.

Varathan mengingatkan jika kenaikan kredit meningkat lebih lanjut dan harga minyak tetap tinggi jelang sanksi Iran pada November akan menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. “Ketika harga minyak naik itu berkontribusi pada peningkatan tagihan impor negara,” ujar dia.

Sementara itu, ekonom DBS, Radhika Rao menuturkan, upaya intervensi mungkin tidak efektif. “Otoritas telah aktif mendukung valuta asing dan pasar obligasi selama volatilitas yang terjadi. Di tengah penurunan yang lebih luas dalam mata uang regional, upaya intervensi membantu untuk memperlancar tetapi akan jadi tantangan untuk membalikkan arah,” ujar Rao kepada CNBC.

BI telah melakukan beberapa langkah untuk memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap USD dengan menaikkan suku bunga sebanyak empat kali sejak Mei. Selain itu, menekan cadangan untuk beli Rupiah.

Dengan cadangan devisa berkurang, pemerintah juga berlakukan pembatasan impor karena akan tahan defisit neraca berjalannya yang ukur arus barang, jasa dan investasi masuk dan keluar di Indonesia. Impor yang lebih sedikit juga mengurangi kebutuhan untuk menjual rupiah dan membeli lebih banyak mata uang asing untuk memenuhi kebutuhannya.

Chief Investment Officer Deutsche Bank Wealth Management untuk Asia Pasifik, Tuan Huynh dalam laporannya menyebutkan defisit transaksi berjalan Indonesia membuatnya rentan terhadap krisis pendanaan. Dia mencatat defisit melebar menjadi USD 2 miliar pada Juli, yang merupakan defisit bulanan terbesar sejak Juli 2013.

Dia menambahkan, kebijakan moneter Indonesia hingga akhir 2018 terutama akan didorong volatilitas dan nilai tukar Rupiah.

“Pemicu utama untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut akan menjadi penguatan lebih lanjut dari dolar Amerika Serikat atau melebarnya defisit yang disebabkan oleh permintaan domestik yang kuat,” ujar dia.

Analis DBS dalam laporannya menyebutkan kalau kenaikan suku bunga akan lebih banyak. “Untuk saat ini, pasar melihat Indonesia bekerja keras menjaga stabilitas makroekonomi, misalnya menaikkan suku bunga untuk menangkis volatilitas nilai tukar dan mempertahankan konsolidasi fiskal,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *