Reshuffle atau Perombakan Kabinet, Rakyat Serahkan ke Jokowi

0
213

Pada tahun 2017 ini menarik dinantikan dinamika politik Indonesia. Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio mencatat, kabar perombakan Kabinet yang akan diinisiasi Presiden Joko Wododo merebak di akhir 2016.

Isu ini tidak mungkin muncul begitu saja ke permukaan. Menurut dia, sudah menjadi cirikhas Jokowi yang sering melempar isu ke publik, dan kemudian mempelajari reaksi masyarakat.

“Nah, untuk perombakan kabinet nampaknya rakyat mempersilahkan saja,”ujar Hendri dalam catstan akhir tahun 2016 yang diterima di Jakarta, Minggu (1/1).

Dalam setahun ada dua kali pergantian ketua DPR-RI. ” Ini mudah-mudahan tidak pernah terjadi lagi. Kendati Ade Komarudin dan Setya Novanto keduanya adalah loyalis kuat Jokowi tapi nampaknya keberpihakan Jokowi lebih banyak ke Setya Novanto

Dukungan Jokowi di legislatif pada tshun lalu, dikatakan Hendri, menguat tajam. Dengan bergabungnya PAN dan GOLKAR maka dukungan partai politik kepada pemerintah menjadi mayoritas.

“Sayangnya dukungan kuat ini belum dengan maksimal dimanfaatkan Presiden Jokowi. Mungkin bila Presiden kembali akan merombak kabinetnya, kinerja maksimal kabinet berbasis parpol akan meningkat‎,” ujar dia.

Masih di tahun 2016, menurut Hendri, Geliat Cikeas dan gebrakan Kertanegara di Pilkada Jakarta. Saat PDIP memutuskan untuk mendukung Basuki Tjahaja Purnama aliadAhok di Pilkada DKI Jakarta banyak pihak sudah menganggap Pilkada di Ibu Kota itu sudah selesai.

“Tapi epicentrum Cikeas yang dikomandoi SBY dan epicentrum Kertanegara yang dipimpin Prabowo “menolak” memberikan kemenangan dini pada Ahok. Bila menang Ahok dicitrakan akan berkeringat dalam perhelatan Pilgub ini. SBY menyodorkan duet Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni sementara Prabowo mengusung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Siapkah Jakarta menerima Gubernur Baru? ” Siapa pun pemenang Pilgub Jakarta, tidak ada satu pun dari peserta Pilgub yang pernah menang sebagai Gubernur Jakarta, termasuk Ahok yang hanya menang sebagai Wagub di Pilgub 2012 lalu,” ujar Hendri.

Tentu saja ini catatan subjektif Hendri Satrio, anda tentu saja boleh berbeda.‎

Masih dari hingar-binga Pilgub DKU, muncul aksi 411 dan 212. Masyarakat Indonesia pasti tidak akan lupa dengan dua aksi ini. Akibat aksi ini pula lah rakyat Indonesia mulai melihat kemunculan tokoh-tokoh baru yang berpotensi menjadi tokoh nasional.

“Suka atau tidak suka Gatot Nurmantyo dan Habib Rizieq adalah ‎nama baru yang muncul mentereng akibat dua aksi itu,” tambah dia.

Lantaran aksi inipulalah muncul isu dugaan makar kepada pemerintah. Kata “makar” sendiri sudah lama tidak terdengar sejak rezim Orde Baru tumbang. Aksi ini pulalah yang mencatatkan pergantian Ketua DPR kedua kali lantaran Ade Komarudin (Ketua DPR saat itu) yang dekat dengan kekuatan Islam dicitrakan tidak ideal bagi pemerintah.