Pembunuh 19 Orang Di Pusat Difabel, Masuk Rumah Sakit Jiwa

0
478
Petugas mengamankan lokasi terjadinya pembunuhan yang menewaskan 19 orang penyandang difabel

Pelaku Adalah Mantan Pegawai Pusat Difabel

DetikFokus.com – Tokyo, Jepang, terjadi penikaman membabi buta terhadap penyandang difabel yang menewaskan 19 orang dan puluhan lainnya luka serius. Aksinya dilakukan pada saat korban sedang tertidur.

Pria tersebut bernama Satoshi Uematsu (26), dirinya mengaku mampu membunuh lebih dari 470 penyandang difabel. Uematsu yang dibawa keluar dari penjara lokal di kota Sagamihara, berjarak 45 kilometer dari Tokyo menuju kantor jaksa publik distrik Yokomaha untuk diperiksa.

Uematsu sendiri menyerahkan diri ke polisi setempat setelah melakukan pembantaian tersebut pada Selasa (26/7) waktu setempat. Dia membawa pisau dan kain berlumur darah. 19 orang tewas, yang terdiri dari 9 pria dan 10 wanita, serta 26 orang lainya luka-luka.

Uematsu tersenyum saat dibawa ke Jaksa untuk diperiksa
Uematsu tersenyum saat dibawa ke Jaksa untuk diperiksa

Diketahui bahwa ia bekerja di pusat difabel bernama Tsukui Yamayuri di Sagamihara sejak tahun 2012 hingga Februari 2016. Uematsu menulis keinginannya untuk menghabisi nyawa para penyandang difabel tersebut.

Televisi Nasional Jepang, NHK, melaporkan Uematsu secara sukarela masuk rumah sakit kejiwaan tahun ini, demi mencegah dirinya membahayakan orang lain usai menyerahkan suratnya tersebut. Saat masuk rumah sakit, Uematsu mundur dari pekerjaannya namun baru dipecat pada bulan Maret.

Umatsu menutupi wajahnya saat dibawa oleh Polisi setempat
Umatsu menutupi wajahnya saat dibawa oleh Polisi setempat

Pihak rumah sakit tidak memberitahu pusat difabel ketika Uematsu keluar rumah sakit pada 2 Maret, meskipun pusat difabel sudah meminta pemberitahuan dahulu. Sebagai antisipasi, kamera keamanan ekstra dipasang di sekitar pusat difabel dan polisi diberitahu soal potensi gangguan dari Uematsu yang berstatus mantan karyawan.

Uematsu pernah diketahui bekerja di sebuah perusahaan transportasi dan mengikuti pelatihan untuk menjadi guru sebelum bekerja di fasilitas difabel itu. Mantan rekan kerjanya mengatakan Uematsu cukup menarik dan bersikap baik terhadap anak-anak. Sedangkan tetangganya terkejut saat mengetahui keterlibatan Uematsu dalam kasus pembunuhan ini.

Peristiwa ini merupakan pembunuhan massal yang paling buruk di Jepang dalam beberapa dekade terakhir ini.