Pelatihan Bela Negara TNI Untuk FPI Tuai Kecaman

0
416

Pelatihan bela negara oleh TNI kepada FPI di Lebak, Banten, dikecam. Pelaksanaan program tersebut bahkan menguatkan dugaan bahwa TNI memiliki kedekatan dengan kelompok radikal yang antikemajemukan. Kedekatan tersebut semakin menyulitkan penegakan hukum terhadap kelompok radikal yang kerap melancarkan aksi toleransi.

“Langkah TNI melatih sejumlah anggota FPI juga mempertegas dugaan ‘kedekatan’ TNI dengan kelompok Islam radikal semacam FPI yang hanya akan mempersulit penegakan hukum atas aksi-aksi intoleransi yang dilakukan kelompok ini,” kata Ketua Setara Institute Hendardi, di Jakarta, Minggu (8/1).

Hendardi mengatakan, ‎tindakan TNI memberikan program latihan tersebut menunjukan standar ganda TNI yang kerap menyuarakan NKRI. Secara politik dan etis tindakan TNI justru menimbulkan berpotensi menimbulkan kontroversi baru.

“TNI mengalami disorientasi serius dalam menjalankan perannya sebagai aparat pertahanan negara dan elemen yang juga dituntut berkontribusi menjaga kebhinekaan. Sekalipun secara legal tindakan TNI melatih FPI bukanlah pelanggaran, tetapi secara politik dan etis, tindakan itu dapat memunculkan ketegangan dan kontroversi baru,” ujarnya.

Hendardi mempertanyakan alasan TNI menjalankan konsep bela negara dan memfasilitasi FPI. Menurutnya, program bela negara secara historis justru menghasilkan preman-preman yang menunjukan kedekatan dengan FPI.

“Pendidikan bela negara tanpa konsep dan pendekatan yang jelas hanya akan melahirkan milisi sipil yang merasa naik kelas karena dekat dengan TNI. Kita masih ingat ketika Ketua Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Fuad diusir dari kawasan konsesi hutan milik PT RAPP, Riau, pada September 2016. Alumni Bela Negara dengan pongah justru menjadi centeng perusahaan dan menentang kinerja aparatur negara, dengan mengusir Nazir dari areal hutan,” beber Hendardi.

Hendardi meyakini program bela negara dari TNI kepada FPI dilakukan tanpa sepengatahuan Presiden Jokowi. Dirinya meminta Presiden tidak ragu untuk menertibkan TNI yang menunjukkan kepribadian ganda terhadap kelompok intoleran.

“Sejak aksi 411 dan 212 saya termasuk yang mendesak agar Jokowi mendisiplinkan TNI yang tampak memiliki kepribadian ganda dalam menghadapi aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok intoleran. Jika benar, TNI berkolaborasi dengan FPI, maka pertemuan antara militerisme dan Islamisme akan memiliki daya destruktif lebih serius pada demokrasi kita. Jokowi tidak bisa terus berpangku tangan menghadapi situasi ini,” katanya.