Novel Baswedan Harus Ungkap Siapa Sosok Jenderal Polisi yang Ditudingnya

0
139

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid meminta kepada Novel Baswedan untuk membuka sosok jenderal polisi yang disebutnya beberapa waktu lalu saat diwawancarai oleh TIME.  Sebelumnya Novel mengakui memperoleh info kalau seseorang jenderal polisi ikut serta dalam serangan terhadapnya. Hidayat menilainya, keterangan itu semestinya juga disampaikan Novel pada Kepolisian agar dapat dilakukan tindakan.

“Jadi apa yang di sampaikan Novel diteruskan oleh polisi. Jika menurutnya ada jenderal polisi ikut serta, siapa itu sebut namanya serta tunjukkan agar semua clear serta tidak berhenti menggantung menjadi masalah serta fitnah, ” kata Hidayat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/6/2017).

Hal tersebut, menurut Hidayat, perlu dilakukan agar problem penyerangan Novel tidak makin melebar serta pada akhirnya polisi menjadi disibukkan untuk merampungkan kasus itu. “JIka Novel mengemukakan keterangan  ke mana saja mesti berdasar pada bukti janganalah melebarkan problem yang belum pasti ada buktinya, ” papar Wakil Ketua MPR RI itu.

Selain itu Hidayat juga  mempertanyakan kenapa pelaku penyerangan Novel tidak kunjung diketemukan. Walau sebenarnya, kejadian itu telah berlangsung lebih dari dua bulan lebih. “Pada prinsipnya kita semuanya menyesalkan mengapa masalah Pak Novel ini tidak segera usai. Bila polisi dapat menangkap teroris di kampung-kampung sana saat yang di Jakarta di dalam kota beberapa orang melihat, kan peristiwanya bukanlah di jalan namun di lingkungan masjid beberapa orang yang melihat namun kok belum selesai setelah lebih dari dua bulan, ” kata Hidayat.

Kapolri Minta Novel Sebut Nama Jenderal yang Diduga Terlibat Penyiraman Air Keras

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, pihaknya akan mendalami pernyataan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Novel menyebut ada perwira tinggi Polri yang terlibat dalam penyiraman air keras ke wajahnya.

Nanun, Tito meminta Novel untuk lugas menyebut siapa oknum yang dimaksud disertai bukti yang kuat.

“Itu yang penting. Sebut namanya siapa, buktinya apa?” ujar Tito di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (16/6/2017).

Jika Novel bisa melampirkan bukti yang mendukung pernyataannya, Tito menjamin akan memproses oknum tersebut.

Ia juga akan terbuka mengusut dugaan pelanggaran pati Polri yang dimaksud.

“Tapi kalau seandainya tidak ada buktinya, tentu saya menyayangkan karena intitusi Kepolisian jadi negatif pandangannya,” kata Tito.

Pernyataan Novel itu akan jadi informasi sumir sehingga menimbulkan berbagai spekulasi. Tak hanya itu, di internal kepolisian nantinya bisa muncul rasa saling curiga.

Oleh karena itu, Kapolri berencana menemui pimpinan KPK pada Senin (19/6/2017), untuk membahas dua hal. Salah satunya soal pernyataan Novel kepada media “Time” itu.

“Kemudian koordinasi perkembangan penanganan penyidikan kasus penganiayaan Novel,” kata Tito.

Penyidik Polda Metro Jaya nantinya akan kembali memeriksa Novel di Singapura untuk mengkonfirmasi apa yang dia sampaikan ke media.

Sekaligus memperjelas siapa oknum jenderal Polri yang dia maksud.

Sebelumnya, Novel menduga serangan pada dirinya terkait sejumlah kasus korupsi yang dia tangani.

Sejak menjadi penyidik KPK, setidaknya enam kali Novel menerima serangan.

Novel sempat mendapat informasi bahwa ada perwira tinggi Polri yang terlibat dalam kasus itu. Namun, ia menepisnya.

Hingga dua bulan berlalu, pelakunya tak kunjung tertangkap. Akhirnya, ia mulai mempertimbangkan kebenaran informasi tersebut.

Ia pun menduga ada “orang kuat” di balik serangan kepada dirinya.

“Awalnya saya mengira informasi itu salah. Tapi setelah dua bulan dan kasus itu belum juga selesai, saya mengatakan (kepada yang memberi informasi itu), sepertinya informasi itu benar,” kata Novel, sebagaimana dikutip dari “Time”.