Bungkam Atas Rohingya, Nobel Perdamaian Suu Kyi Menuai Kontroversi

0
194
Bungkam Atas Rohingya, Nobel Perdamaian Suu Kyi Menuai Kontroversi

Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar menjadi sorotan dunia saat ini. Hal itu karena dia diam membisu, tidak menanggapi, krisis kemanusiaan yang sedang melanda etnis Rohingya di negara bagian Rakhine.

Baca Juga : Kapolri : Usut Tuntas Saracen!

Demonstrasi terjadi di mana-mana mulai dari Jakarta, Canberra, hingga Chechnya di Rusia, menuntut penerima Nobel Perdamaian pada tahun 1991 itu untuk mengambil tindakan untuk melindung warga etnis minoritas Rohingya.

Sesama rekan peraih Nobel, juga bersuara mendesak Suu Kyi segera bertindak.

“Selama beberapa tahun terakhir ini saya berulang kali mengecam perlakuan tragis dan memalukan ini. Saya masih menunggu Peraih Nobel, Aung San Suu Kyi, agar melakukan hal serupa,” tambahnya.

Bahkan ada yang menuntut agar Nobel yang diterima Suu Kyi dicabut. Sejumlah petisi termasuk di Indonesia telah bermunculan mendesak Komite Nobel melakukan sesuatu.

Suu Kyi dianugerahi Nobel Perdamaian ketika dia ditahan oleh junta militer Myanmar seusai pemilihan umum 1990.

Tentunya, 26 tahun kemudian menjadi hal yang ironis ketika Suu Kyi diam seribu bahasa terhadap konflik militer yang berujung kekerasan di negaranya.

Jangan lupa pula, dia saat ini memimpin Myanmar walaupun wewenangnya dibatasi oleh militer Myanmar (Tatmadaw) yang masih mendominasi keputusan militer.

“Tidak ada sejarahnya pencabutan Nobel Perdamaian. Komite juga tidak memiliki tradisi mengecam peraih Nobel,” ucap Gunnar Stalsett, mantan anggota komite yang merupakan deputi ketua komite di tahun Suu Kyi menerima Nobel, seperti dikutip The New York Times.

“Prinsip kita adalah siapapun yang menerima Nobel Perdamaian bukanlah dewa. Ketika keputusan telah diambil dan nobel diberikan, maka berakhirlah tanggung jawab komite,” lanjut Stalsett.

Bukan hanya penerima Nobel Perdamaian seperti Suu Kyi yang menuai kontroversi.