Menyorot Lebih Dalam Perjalanan dan Gaya Kepemimpinan Ahok, Sang Gubernur Jakarta

0
379

Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan merupakan kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Menurut Stoner, (1998) semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, akan semakin besar potensi kepemimpinan efektif.

Gaya kepemimpinan yang cenderung ceplas-ceplos atau to the point sangat diperlukan untuk membangun sebuah sistem kerja yang lebih baik. Gaya kepemimpinan yang seperti itu terkadang juga mendapatkan respon negatif dan berdampak buruk dengan gaya kepemimpinan tersebut. Salah satu tokoh politik yang memiliki gaya kepemimpinan ceplasceplos, yaitu Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal dengan sapaan Ahok.

Ahok dikenal sebagai Gubernur DKI Jakarta yang menjabat pada 19 November 2014. Sebelum menjabat sebagai Gubernur, Ahok hanya sebagai Wakil Gubernur dan Plt (Pelaksana tugas) Gubernur sebelumnya, Jokowi. Jiwa kepemimpinan Ahok pada saat menjabat sebagai wakil gubernur sudah terasa dikalangan warga Jakarta. Yaitu saat relokasi warga waduk Pluit yang dipindahkan ke rusun (rumah susun), penertiban PKL (pedagang kaki lima) dipasar Tanah Abang. Serta tindakan-tindakan yang kerap kali membuat warga tercengang. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Ahok juga mendapatkan respon positif dan negatif. Sehingga gaya kepemimpinan Ahok menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Tindakan yang dilakukan Ahok pada saat menjabat sebagai wakil gubernur turut mendapatkan reaksi keras dari ormas (Organisasi Masyarakat) FPI di DKI Jakarta. Salah satunya video yang dipostingkan di Youtube menjadi persoalan sangat penting. Video yang dipostingkan di Youtube saat sedang marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar. Hal ini dilihat oleh ormas FPI dan menilai bahwa gaya kepemimpinan Ahok sangatlah tidak cocok untuk memimpin Jakarta, serta sifatnya terlalu arogan. Gaya kepemimpinan Ahok yang ceplas-ceplos, marah-marah dan kerap kali mengeluarkan kata-kata kasar, menjadi cikal bakalnya konflik terhadap ormas-ormas di Jakarta.

Kepemimpinan juga sering dikenal sebagai kemampuan untuk memperoleh konsensus anggota organisasi untuk melakukan tugas manajemen, agar tujuan kelompok tercapai. Seorang pemimpin harus bisa memadukan unsur-unsur kekuatan diri, wewenang yang dimiliki, ciri-ciri kepribadian, dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain.

Pemimpin ada dua macam, yaitu pemimpin formal dan informal. Di mana pemimpin formal harus memiliki kekuasaan dan kekuatan formal yang ditentukan oleh organisasi. Sedangkan pemimpin informal walau pun tidak memiliki legitimasi kekuatan dan kekuatan resmi, namun harus memiliki kemampuan mempengaruhi yang besar dan disebabkan oleh kekuatan pribadinya. Oleh karena itu, dalam proses kepemimpinan telah muncul beberapa teori. Teori kepemimpinan dalam organisasi telah berevolusi dari waktu ke waktu ke dalam berbagai jenis. Serta merupakan dasar terbentuknya suatu kepemimpinan. Setiap teori menyediakan gaya yang efektif dalam organisasi. Banyak penelitian manajemen telah menemukan solusi kepemimpinan yang sempurna. Hal ini menganalisis sebagian besar teori terkemuka dan mengeksplorasinya.

Berbicara mengenai gaya kepemimpinan dalam berbagai literatur, cukup beragam tipe gaya kepemimpinan. Mulai dari gaya kepemimpinan otoriter, demokratis, Bebas/Leissez faire, karismatis ,dan diplomatis. Namun satu hal yang pasti, bahwa kepemimpinan adalah sebuah upaya untuk mempengaruhi orang lain dan menggerakannya untuk mencapai suatu tujuan telah ditetapkan.

Karakter kepemimpinan Ahok di mana dia lebih mengutamakan kepentingan rakyat yang dipimpinnya dibandingkan kepentingan partainya. Sehingga Ahok lebih memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat. Bahkan pada saat ini muncul gerakan saveahok yang didukung ratusan ribu orang untuk bertahan melawan hak angket DPRD DKI. Akibat tekanan partai Gerindra kepadanya, Ahok lebih memilih mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentinngan segala-galanya. Termasuk mengesampingkan kepentingan partainya. Akibat adanya perbedaan tersebut, maka Ahok menyatakan keluar dari partai yang sukses membesarkan namanya dan mengantarkannya menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Pemimpin hebat tentunya harus mampu dipercaya rakyat yang dipimpinnya. Dan tanpa adanya kepercayaan, maka dipastikan tujuan tinggi seorang pemimpin untuk berpengaruh tidak akan dapat terwujud. Pemimpin berpengaruh adalah pemimpin yang dipercaya rakyatnya, karena itu pemimpin harus jujur dan dengan kejujuran tersebut maka integritasnya ada dan dengan integritas maka lahirlah pengaruh. Ahok begitu besar pengaruhnya pada masyarakat, karena jujur dan memiliki integritas yang tinggi. Ahok memiliki keunggulan selalu transparan dalam hal anggaran. Hal inilah yang menumbuhkan pengaruh besar pada diri Ahok. Sehingga dipercaya rakyat.

Selain itu, gaya kepemimpinaan berikutnya yang dimiliki Ahok adalah tegas. Dalam memimpin, Ahok dikenal sangat tegas, bahkan tidak jarang jika ada bawahannya yang melanggar, langsung dicopot dan ditindak. Sikap tegas ini harus dimiliki seorang pemimpin. Tanpa ketegasan maka dapat dipastikan kepemimpinan tersebut tidak akan dapat bertahan lama. Demikianlah gaya kepemimpinan Ahok, yaitu gaya kepemimpinan moralitas yang lebih mengedepankan karakter dalam memimpin.