Mengapa Ada Al Maidah dan aksi 212 di komik X-Men?

0
194

Seniman yang menyusupkan pesan ke dalam komik yang digarapnya, merupakan hal yang biasa, namun yang dilakukan komikus Indonesia Ardian Syaf adalah “menyalahgunakan properti Marvel untuk pesan politiknya yang intoleran. Jelas tanpa seizin yang punya properti. Itu masalahnya,” kata Hikmat Darmawan, seorang pengamat komik yang juga anggota Dewan Kesenian Jakarta.

Marvel mengatakan telah menjatuhkan sanksi indisipliner dan menyebut bahwa yang dilakukan Ardian Syaf bertentangan dengan nilai-nilai Marvel dan sikap X-Men sejak diciptakan.

Yang dipermasalahkan adalah sejumlah halaman di sebuah komik Marvel berjudul X-Men Gold #1. Di situ Ardian Syaf yang bertugas sebagai penggambar, menyusupkan berbagai referensi terkait kontroversi Al Maidah 51 yang menyeret Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, ke pengadilan, serta unjuk rasa besar-besaran kalangan Islam radikal pada 2 Desember 2016 yang kemudian disebut sebagai aksi 212.

Al Maidah 51 disusupkan di baju Colossus, seorang tokoh X-Men yang sedang bermain baseball, dengan tulisan QS 5:51 -atau Quran Surat Al Maidah 51 di dadanya.

Sementara Aksi 212 dimunculkan sebagai grafiti di dinding sebuah gedung, saat Kitty Pryde menyerukan toleransi kepada sekelompok manusia -dan di kejauhan, namun terletak persis di pinggir kepala Kitty Pride, seorang mutan Yahudi, tertulis kata Jewelry (sebagai papan nama toko perhiasan) dengan penekanan pada Jew, atau Yahudi.

di akun Facebook dan Twitter, Ardian Syaf membela diri atas tindakannya.

Menyusul kontroversi itu, Ardian Syaf justru memajang gambar asli karyanya yang dipermasalahkan itu sebagai sampul laman Facebook miliknya. Ia juga memampang diskusinya dengan seorang pengeritiknya, yang di dalamnya Ardian Syaf memapar pembelaan diri.

Komikus asal Tulung Agung itu menulis bahwa ia sudah menjelaskan kepada Marvel apa yang dia lakukan.

Disebutkan, dalam bahasa Inggris yang tidak terlalu baku, bahwa QS 5:51 mengacu pada Al Maidah 51 dan 212 mengacu pada ‘aksi damai 2 Desember 2016, yang dilakukan karena ‘seorang gubernur melakukan penistaan terhadap Kitab Suci kami, dan polisi tak memperlakukannya sebagai penista… Ada tujuh juta orang yang melakukan aksi damai ini.’

“QS 5:51 adalah ayat yang ia olok-olok. Ini sangat membekas dalam ingatan saya.”

Ia juga menyebut dalam percakapan di facebook, bahwa ia melukiskan referensi terkait aksi 212 dan Al Maidah 51 itu setelah turut serta dalam unjuk rasa 2 Desember 2016.

Marvel bereaksi setelah munculnya berbagai tanggapan di media sosial.

Dalam pernyataannya yang disiarkan pertama kali oleh ComicBook.com, Marvel menyatakan bahwa:

“Acuan (Al Maidah 51 dan aksi 212) itu tidak mencerminkan pandangan penulis, editor, atau siapa pun di Marvel, dan merupakan hal yang bertentangan langsung dengan keinkusifan Marvel Comics dan sikap yang diperjuangkan X-Men sejak diciptakan.”

“Lembar gambar ini akan dihilangkan dari pencetakan berikutnya serta versi-versi digitalnya, dan akan sanksi indisipliner dijatuhkan (kepada Ardian Syaf).”

Marvel menjelaskan kekecewaannya, bahwa di komik itu disusupkan pesan anti pemimpin Kristen dan Yahudi ‘dalam terjemahan Indonesia tertentu Al Maidah 51.’

Lalu Marvel pun memapar bahwa X-Men diciptakan oleh dua seniman Yahudi, Stan Lee dan Jack Kirby, dan penulis X-Men Gold #1 juga adalah seorang Yahudi.

“Bahkan dalam konteks (komik itu), X-Men dipimpin oleh Kitty Pryde, seorang Yahudi, … Sahabat (tokoh X Men) Colossus, Nightcrawler, adalah pendeta Katolik, dan anggota tim itu.”

Pengamat komik Hikmat Darmawan mengatakan, dilihat dari posting-posting di media sosial sesudah meruyaknya kasus ini, “Ardian Syaf memang tampaknya tak merasa bersalah.”

Ardian Syaf bahkan menyarankan publik untuk segera membeli komik itu karena akan menjadi barang langka, mengingat edisi selanjutnya akan diterbitkan tanpa lembar karyanya itu.

“Ardian Syaf sendiri sebelum ini sudah sering bikin sisipan-sisipan seperti ini. Misalnya, dia menyisipkan gambar warung pecel lele dan monas di lanskap kota Gotham, atau gambar Jokowi di sebuah komik DC Comics, dan gambar buku-buku Islam di meja Clark Kent dalam komik Superman yang dia gambar,” papar Hikmat.

Kali ini menjadi heboh, selain karena diributkan di media sosial, juga “karena dianggap pesannya mengandung pesan intoleransi dan/atau kebencian pada kelompok agama lain. Apalagi ada pesan subliminal anti-Yahudi dalam komik yang didapuk sebagai membawa pesan keragaman dan toleransi,” tambah Hikmat.

Hikmat menyebut, sebelumnya pernah terjadi juga kehebohan penyusupan pesan terkait Marvel. Saat itu, katanya, “(komikus) Ed Brubaker menyisipkan cukup gamblang pesan anti Tea Party (sebuah kelompok ultra konservatif di Partai Republik) dalam komik Captain America. Diprotes cukup besar-besaran,” kata Hikmat.

Tak jelas apakah ada sanksi, namun Marvel menyampaikan permintaan maaf kepada Tea Party.

Siapakah Ardian Syaf ?

Ardian Syaf adalah salah satu dari sekitar 50 perupa Indonesia yang sekarang berkarya, terlibat dan bekerja di industri komik internasional.

“Mereka bekerja sebagai penggambar (penciller), inker, colorist, atau pembuat gambar sampul di penerbit-penerbit komik Amerika, Belanda, dan Jepang. Kabanyakan di Amerika Serikat, dan sebagian memegang judul-judul besar di DC Comics dan Marvel,” Hikmat menjelaskan.

Bagaimana nasib Ardian sesudah kontroversi ini?

Willow Wilson, seorang komikus Muslim dan berjilbab di Marvel, di akun Twitternya mengecam keras -bahkan dengan kata-kata kasar- tindakan Ardian Syaf. Menurutnya, tindakan itu membuat karir Ardian Syaf di industri komik internasional, berakhir.

Namun Marvel sendiri dalam pernyataannya tak memastikan langkah indisipliner apa yang dijatuhkan terhadap Ardian Syaf. Mereka menyebut, Ardian Syaf sudah menyelesaikan tugasnya terkait X-Men Gold #2 yang akan diluncurkan tanggal 19 April. Dan perannya sebagai tiga seniman gambar X-Men Gold, abersama RB Silva dan Ken Lashley, belum akan ditentukan lebih lanjut.