Konflik Suriah Bisa Picu Perang Dunia Ketiga

0
168

Presiden AS, Donald Trump sudah memerintahkan dua kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat untuk meluncurkan 59 rudal Tomahawk guna menghujani pangkalan udara di dekat Homs, Suriah.

Perintah ini menunjukkan bukti bahwa AS sangat serius menangani aksi yang dilakukan oleh pemerintah Suriah yang memerintahkan pesawat menjatuhkan bom gas yang membunuh ratusan penduduk sipil di negeri itu.

Inggris menyebut perintah Trump itu sebagai tindakan balasan yang mematikan atas pembunuhan massal secara keji yang dilakukan oleh rezim Assad kepada sekitar 100 orang, termasuk anak-anak.

Namun perintah itu juga menimbulkan beragam risiko, meski Pentagon sudah memberikan peringatan kepada Rusia sebelum meluncurkan serangan rudal itu.

Presiden Rusia Vladimir Putin kini telah mengirimkan lebih dari 4.000 tentaranya ke Suriah, yang didukung oleh pesawat untuk mendukung pemerintah rezim Assad, yang oleh piohak barat dituduh melakukan kejahatan perang yang mengerikan.

Beberapa pengamat mengklaim aksi balasan AS, yang pada zaman Presiden Obama secara konsisten dihindari, dapat membuka jalan untuk menuju konflik baru antara dua musuh lama, Amerika dan Rusia.

Sementara beberapa pihak lain juga percaya bawah langkah itu telah membuat kemungkinan adanya perang terbuka yang semakin besar, termasuk pendapat dari mantan duta besar Inggris untuk Moskow, Sir Anthony Brenton . Ia percaya bahwa Presiden Putin kini tengah bersiap-siap untuk perang, karena dia benar-benar tidak ingin kekuatan militernya dianggap “lemah’ oleh pihak Barat.

Berbicara kepada Daily Mirror pada Oktober tahun lalu, Brenton menekankan bawah: “Mereka yang tidak ingin perang, Mereka akan kehilangan..

“Ini menunjukkan kekuatan yang tidak berniat untuk melawan, tetapi sinyal bahwa pertempuran harus dihindari.”

Ada suatu masa ketika prospek terjadinya perang dengan negara-negara seperti Rusia dan Cina telah menghilang dengan berakhirnya Perang Dingin. Akan tetapi hubungan ketegangan antara pemain militer utama dunia, seperti AS dan Rusia, tetap bisa memicu pecahnya konflik global.

Keterlibatan Rusia dan Amerika dalam perang di Suriah telah menciptakan situasi di mana pesawat kedua negara dilaporkan terbang nyaris bersamaan di kawasan udara wilayah itu. Hal ini bisa memicu konflik di udara antara mereka.

Pemimpin Rusia Vladimir Putin juga telah mengerahkan kapal perang ke Laut Baltik dengan membawa rudal berkemampuan nuklir. Media Rusia mengklaim kapal yang ditempatkan secara strategis itu bisa menjangkau kota-kota Eropa dengan kemampuan arsenalnya. Kapal perang Putin juga tengah berlayar menyusuri Selat Inggris dan tentu menjadi ancaman serius bagi Royal Navy.

Mereka juga baru saja meluncurkan rudal nuklir mereka “Satan 2” yang dianggap memiliki hulu ledak yang paling kuat yang pernah dibuat oleh manusia.

Jika Perang Dunia Tiga terjadi, tampaknya Rusia akan memiliki sesuatu untuk dilakukan dengan kemampuan dan akan memicu perang yang berjarak ratusan mil jauhnya dari Suriah.

Seorang ahli mengklaim Latvia akan menjadi Ground Zero,  negara di mana konflik global berikutnya akan dimulai. Hal ini dipicu oleh langkah Rusia yang mendorong kerusuhan sipil di Latvia seperti itu di Ukraina dan Crimea.

Profesor Paul D Miller dari Universitas Pertahanan Nasional di Washington DC – meramalkan invasi Crimea dan konflik Ukraina atau negara Baltik berikutnya, masuk dalam daftar Rusia.

Tapi Putin tidak akan menggunakan pasukan konvensional. Sebaliknya, ia akan menciptakan apa yang seperti terjadi di Ukraina dan membangkitkan patriotisme etnis Rusia di negara ini.

“Putin akan memicu krisis militer ambigu menggunakan proxy, mungkin dalam dua tahun ke depan”, katanya.

Presiden sekaligus miliarder, Trump  juga bisa menimbulkan spekulasi dan menyebabkan perang global, karena temperamennya yang berapi-api. Tapi Presiden Trump sudah mengakui jika ia merasa  “sangat menakutkan” untuk meletakkan jarinya pada tombol nuklir. Ia paham betul akan konsekuensinya jika terjadi perang nuklir.

Sebelum meluncurkan serangan Tomahawk ke Suriah, Trump dilaporkan telah mengandalkan padangan dari para ahli yang militer berpengalaman daripada pendapat tokoh politik yang telah mendominasi kebijakan, dalam minggu pertama era kepresidenannya.

Di bawah Konstitusi Amerika Serikat, presiden harus mendapatkan persetujuan kongres sebelum AS menyatakan perang melawan negara lain yang berdaulat atau negara yang mengancam untuk menyerang AS atau sekutu-sekutunya. Mungkin ini satu hal yang bisa mengerem AS untuk memulai peperangan.