Kimia Farma Bangun Pabrik Bahan Baku Obat di Indonesia

0
384

PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) akan membangun pabrik bahan baku obat atau Active Pharmaceutical Ingredient (API). Pembangunan tersebut merupakan tahap kedua.

Eddy Murianto, Corporate Secretary Kimia Farma, pabrik tersebut akan memproduksi bahan baku obat-obatan, yaitu: Simvastatin, Atorvastatin, Rosuvastatin, Pantoprazole, Esomeprazole, Rabeprazole, Clopidogrel dan Sarpogrelate dengan total kapasitas produksi 30 ton per tahun.

Produksi Bahan Baku Obat ini untuk memenuhi 100% kebutuhan seluruh industri farmasi di Indonesia untuk ke delapan bahan baku tersebut dan selebihnya untuk pasar ekspor.

“Pabrik ini dibangun sesuai dengan standar Good Manufacturing Practice (GMP) dan diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2017. Adapun untuk komersialisasi hasil produksi Bahan Baku Obat Aktif (API) ini, direncanakan pada awal tahun 2018,” ujar dia di Cikarang, Senin (10/10/2016).

Sebelumnya, KAEF telah membangun pabrik bahan baku garam farmasi Tahap I yang saat ini sudah selesai 100% pembangunannya dan akan dilanjutkan pembangunan tahap kedua di tahun ini juga dengan kapasitas yang lebih besar.

Pendirian pabrik tersebut, lanjut dia, dikeloa oleh anak perusahaan baru PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia pada 25 Januari 2016. Perusahaan ini hasil Joint Venture (JV) Company antara KAEF dengan PT Sungwun Pharmacopia Indonesia perwakilan dari Sungwun Pharmacopia Co. Ltd dari Korea Selatan

Selain memproduksi Bahan Baku Obat Aktif (API), lanjut dia, pabrik ini juga akan memproduksi High Function Chemical (HFC) yang dapat digunakan sebagai bahan baku kosmetika dan food suplement, yang seluruh hasil produk HFC ini akan di ekspor ke Korea, Jepang dan Amerika. KAEF optimis bahwa ketergantungan akan impor Bahan Baku Obat (API) akan mulai berkurang ke depannya dan pada akhirnya Indonesia mampu mandiri dalam produksi Bahan Baku Obat.

KF menggandeng mitra kerja sama dengan Korea Selatan, Sungwun Pharmacopia Co., Ltd, karena mereka memiliki teknologi untuk memproduksi Bahan Baku Obat (API) serta melakukan alih teknologi dan alih pengetahuan tentang produksi Bahan Baku Obat, dengan memberikan training di Korea Selatan selama 1 (satu) tahun untuk seluruh SDM yang bekerja di pabrik ini, yang akan dimulai akhir tahun ini.

“Dengan adanya alih teknologi dan alih pengetahuan ini, diharapkan Indonesia ke depan dapat memiliki kemampuan untuk mengembangkan bahan baku obat secara mandiri dengan melakukan riset dan pengembangan, khususnya untuk pengembangan bahan baku obat,” jelas dia.