Ketegangan Antara Presiden Jokowi dan Mantan Presiden SBY Terus Berlanjut

0
488

Ketegangan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) denga mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak kunjung reda. Setelah keduanya saling sindir, Ketua Umum Partai Demokrat juga tak diundang Jokowi ke Istana sebagaimana dilakukannya terhadap sejumlah ketua umum partai.

Bahkan berbagai kalangan menyebut, pertarungan kedunya semakin sengit manakala SBY dan sejumlah partai mengajukan sang anak Agus Hyudhoyono sebagai calon gubernur DKI Jakarta menantang petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Anies Baswedan.

“Ketegangan antara Jokowi – SBY akan berlanjut hingga Pilgub DKI Jakarta selesai. Saat ini sebenarnya ada segitiga politik di Indonesia yakni Megawati, Jokowi dan SBY. Ketiganya diam-diam saling gigit,” ujar Zulfikar Ahmad, pengamat politik kepada Harian Terbit, Senin (5/12/2016).

Menurutnya, sejak lama publik mengetahui keduanya memiliki ketegangan, yang terlihat saling ‘serang’ di media.

“Semakin terlihat ketika Jokowi tidak mengundang SBY ke Istana seperti yang dilakukannya kepada ketua umum partai lainnya,” ujar Zulfikar, dosen Ilmu Politik di sebuah perguruan tinggi swasta ini.

Saat ditanya apakah ketegangan keduanya akan reda pasca penangkapan sejumlah tokoh dengan tuduhan makar, Zulfikar mengemukakan,”pasca makar ketegangan kedunya masih belum reda. Kita berharap hubungan keduny bis harmonis sehingga situasi politik menjadi adem,” ujarnya.

Komunikasi

Sementara itu, pengamat politik dari Point Indonesia (PI), Karel Susetyo mengatakan, panasnya hubungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai akibat komunikasi politik yang buruk. Harusnya keduanya memberikan tauladan dan contoh yang baik terhadap rakyatnya.

Namun Karel meragukan ada ketegangan diantara keduanya. Karena indikatornya juga tidak jelas bila keduanya panas. Pasalnya, Gerindra dan PKS juga berseberangan dengan Jokowi, namun adem ayem saja alias tidak panas juga.

Makar

Sementara itu eksponen 77/78 merasa prihatin dengan ditangkapnya beberapa orang yang sementara dituduh makar. Tuduhan makar bisa dikenakan hukuman maksimal hukuman mati. Oleh karena itu atas tuduhan tersebut harus dibuktikan dengan cermat dan kepada mereka diberlakukan azas praduga tidak bersalah.

Makar adalah kegiatan yang terencana, memiliki tujuan yang jelas, adanya pengorganisasian yang matang, dan aksi2 nyata dalam satu rangkaian untuk menjatuhkan pemerintah yang sah. Sedangkan mereka barulah mengeluarkan pernyataan-pernyataan  dalam forum-forum publik dan sama sekali tidak terlihat melakukan machtvorming sebagaimana layaknya suatu makar.

Koordinator Nasional Gema 77/78, Ir S Indro Tjahyono dan Koordinator Gema 77/78 Jabar, Ir  Syafril Sjofyan, dalam pernyataannya menyayangkan begitu cepatnya tuduhan makar dipakai untuk menuduh kegiatan-kegiatan yang masih wajar di negara demokrasi.

Keduanya mengemukakan, tuduhan ini bagaimanapun perlu diwaspadai, karena kemungkinan hal ini ditujukan untuk melemahkan pemerintahan yang sah. Adanya isu makar hanya akan mencitrakan bahwa pemerintah lemah dalam melakukan konsolidasi demokrasi.

Isu makar mungkin oleh oknum-oknum tertentu dipakai justru untuk mengeskalasi suhu politik saat ini.
Eksponen 77/78 berharap tema super damai aksi 212 yang berjalan damai dengan tuntutan tegaknya keadilan, dimana penista agama diperlakukan sebagaimana tersangka yang terdahulu, benar benar ditegakan oleh pihak penegak hukum dan tidak ada diskriminasi, sehingga tidak ada lagi aksi lanjutan.