Jaksa KPK Dituding Hanya Cari Sensasi Dengan Sebut Nama Amien Rais di Aliran Dana Korupsi Alkes

0
123
Politisi Senior PAN Amien Rais (tengah) memberikan keterangan kepada awak media tentang aliran dana kasus korupsi pengadaan alat kesehatan, di Jakarta, Jumat (2/6). Amien menyebutkan bahwa pada Januari hingga Agustus 2007 ia mengaku menerima bantuan dana operasional sebesar Rp600 juta dari mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Soetrisno Bachir. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama/17

Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais terseret namanya dalam dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan tahun 2005 dengan terdakwa mantan Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari. Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang tuntutan di PN Tipikor Jakarta pada Rabu 31 Mei lalu, menyebut ada aliran Rp600 juta ke rekening Amien Rais yang dikirim secara bertahap dari Januari sampai November 2007.

Menanggapi hal itu, Amien Rais menggelar konferensi pers di kediamannya di bilangan Jakarta Selatan pada 2 Juni kemarin. Amien mengaku memang ada kiriman Rp600 juta ke rekeningnya dalam rentang waktu tersebut, pemberian dari Ketua Umum PAN periode 2005-2010 Soetrisno Bachir. Dana itu diberikan cuma-cuma untuk membantu operasional Amien Rais dalam mengurusi kegiatan sosial maupun keagamaan.

Praktisi hukum lulusan Pascasarjana Universitas Indonesia, Tony Hasibuan, menilai jaksa KPK mencari sensasi dengan menyebut nama Amien Rais dalam persidangan. Penilaian ini, karena keterangan jaksa hanya bersumber dari saksi kasus tersebut tanpa bukti lain.

“Tidak ada bukti lain yang menunjuk keterlibatan pak Amin dalam mempengaruhi kebijakan memenangkan salah satu perusahaan dalam tender di Kemenkes. Jadi terkesan KPK hanya mencari sensasi saja, di mana kalau tidak ada nama tokoh besar dalam perkara yang ada di KPK, seperti makan sayur tanpa garam,” ujar Tony.

Terseretnya nama Amien Rais dalam kasus yang ditangani KPK sebenarnya bukan yang pertama kali. Pada 2012 lalu, putri Amien Rais, Tasniem Fauzia, disebut jaksa menerima Rp2,5 juta dari terdakwa tindak pidana pencucian uang (TPPU), Wa Ode Nurhayati. Faktanya, uang itu untuk membayar batik yang dibeli Wa Ode di butik milik Tasniem Fauzia.

“Aliran dana sebesar Rp2,5 juta untuk pembayaran batik kepada anak pak Amien Rais saat itu juga menjadi berita heboh. Keluarga pak Amien Rais disebut terima aliran dana korupsi. Jadi, KPK baiknya meninggalkan kebiasaan lama untuk mencari sensasi. Lebih baik mengedepankan penegakan hukum yang bermartabat dan berkeadilan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, JPU dalam sidang tuntutan terhadap mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada Rabu 31 Mei lalu, menyebut Amien Rais menerima aliran dana Rp600 juta dari pengurus Yayasan Sutrisno Bachir Foundation (SBF). Dana tersebut diterima secara enam tahap sejak Januari 2007 hingga November 2007.

Pengurus Yayasan SBF sendiri sebelumnya menerima aliran dana Rp754 juta dari PT Mitra Medidua pada 2 Mei 2006 dan Rp50 juta pada 13 November 2006. PT Mitra Medidua merupakan suplier alkes dalam proyek yang dimenangkan oleh PT Indofarma Tbk tersebut.

Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) guna mengantisipasi kejadian luar biasa (KLB) 2005 pada Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan dengan terdakwa Siti Fadila Supari, menyebabkan kerugian negara hingga Rp6,1 miliar. Dalam kasus ini, Siti Fadila Supari dituntut 6 tahun penjara.

Sementara Soetrisno Bachir menegaskan bahwa uang yang dikirim Soetrisno Bachir Foundation (SBF) Rp600 juta ke Amien Rais berasal dari kantongnya sendiri. Bukan berasal dari proyek alat kesehatan (alkes).