Isu Berita Hoax Dimainkan Kelompok Elite Tertentu

0
203

Peneliti SMRC Sirojuddin Abbas menduga kuat bahwa ada kelompok elite tertentu yang memainkan isu-isu yang tidak benar (Hoax) dan meresahkan masyarakat demi kepentingan tertentu yang menguntungkan kelompoknya. Menurut Abbas, kelompok ini bisa kelompok elite yang berlatar belakang politik, ekonomi dan agama.

“Isu-isu yang beredar tidak terlepas dari kepentingan elite tertentu dan mereka punya agen mobilisasi isu dan mobilisasi massa untuk mempengaruhi opini masyarakat,” ujar Abbas di Jakarta, Kamis (29/12).

Abbas mengungkapkan banyak isu yang meresahkan sekarang beredar khususnya melalui media sosial. Isu-isu tersebut terkait intoleransi, seperti sentimen anti Tiongkok atau Kristen, kemudian ada isu jutaan tenaga kerja asing, isu komunisme, isu mata uang menyerupai uang Tiongkok, dan terorisme sebagai pengalihan isu.

“Jika dilihat dari isu yang beredar ada upaya dari para elite ini untuk mendiskreditkan kelompok minoritas, pemerintahan Jokowi-JK dan juga kepolisian. Tentu ada motifnya, yang kuat adalah motif politik, ekonomi dan ideologi,” terang dia.

Abbas menilai bahwa penyebar isu-isu tersebut bukan dilakukan oleh masyarakat biasa. Menurutnya, masyarakat Indonesia sangat toleran dan mendukung pemerintahan Jokowi-JK. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi-JK masih tinggi.

“Masyarakat kita sangat toleran sehingga bisa menerima perbedaan. Pemerintahan Jokowi-JK juga masih dipercaya oleh masyarakat. Tetapi ada pihak yang tidak menginginkan situasi berlanjut demi kepentingan tertentu,” ungkap dia.

Hal ini, menurut Abbas terbukti dari hasil survei Nasional SMRC pada 22 November sampai 28 November 2016. Dalam survei tersebut, ditemukan bahwa kelompok yang paling tidak disukai rakyat Indonesia adalah ISIS sekitar 25,5 persen. Kemudian diikuti oleh kelompok LGBT (16,6 persen), komunis (11,8 persen), Yahudi (5,0 persen), Kristen (2,3 persen), FPI (1,6 persen), Wahabi (1,1 persen), Tiongkok (0,8 persen) dan kelompok lainnya.

“Hasil survei tersebut masih menunjukkan bahwa masyarakat kita toleran dan tetap menganggap ISIS sebagai musuh bersama. Sentimen ketidaksukaan terhadap Tiongkok dan Kristen sangat kecil. Ini berarti ada kelompok lain yang memainkan isu-isu intoleransi,” jelas dia.

Karena itu, Abbas mendorong pemerintah untuk menggunakan segala sumber daya dan instrumen kekuasaannya untuk membuka dan membongkar kelompok elite yang bermain di belakang isu-isu tersebut. Jika ditemukan operator lapangannya, maka perlu ditelusuri siapa dalangnya.

“Jangan dibiarkan terus sebab isu-isu yang meresahkan dan sensitif bisa berdampak buruk terhadap pemerintahan Jokowi-JK sendiri dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus ditindak tegas pelakunya,” pungkas dia.