Ini Nama-Nama Kadindat Cawapres Pendamping Jokowi di Pilpres 2019

0
426

Sejumlah pengamat politik menilai, Pilpres 2019 akan kembali menjadi ajang pertarungan petahana Joko Widodo melawan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Siapa yang bakal mendampingi Prabowo dan Joko Widodo untuk maju di kontestasi pilpres masih belum terjawab.

Hanya saja, sejumlah nama sudah disebut-sebut layak menjadi pendamping Prabowo. Misalnya, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Presiden PKS Sohibul Iman, mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli dan lainnya.

Lalu bagaimana dengan Jokowi? Pengamat politik Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, Muradi mengatakan, Presiden Jokowi saat ini masih tetap fokus menyelesaikan programnya.

Namun memang sedari awal Jokowi juga merasa penting untuk tetap memposisikan diri kompetitif, mempertahankan pengaruh politiknya.

Sudah tentu, dia juga akan memilih sosok calon pendamping di Pilpres 2019, yang sekiranya mampu meningkatkan elektabilitasnya.

Setidaknya, kata Muradi, Jokowi bisa memilih cawapres dari empat kelompok.

Yakni, dari anggota kabinetnya sendiri. Hal ini akan mirip dengan saat Susilo Bambang Yudhoyono mengambil Boediono sebagai calon wakil presiden mendampinginya pada 2009 lalu.

“Dan hal ini terbukti efektif,” kata Muradi menjawab JPNN.com, Minggu (24/4).

Dia menambahkan, sejumlah nama nama yang patut dipertimbangkan antara lain Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Kemudian, dari unsur TNI dan Polri. Misalnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian. “Ini juga patut dipertimbangkan,” tegasnya.

Muradi menambahkan bisa juga dari unsur partai politik. Jokowi bisa ambil dari kader-kader partai politik yang mengemuka.

Misalnya, sebut Muradi, ada anggota DPR Prananda Prabowo yang putra dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, serta Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.

“Dan juga bisa saja dipertimbangkan jika Golkar masih konsisten mengusung Jokowi di 2019 ada nama (Ketua Umum Partai Golkar) Setya Novanto atau kader lainnya,” papar Muradi.

Kemudian, bisa dari kalangan organisasi masyarakat keagamaan seperti Nadhlatul Ulama atau Muhammadiyah yang memiliki basis kuat di akar rumput.

“Ketua Umum NU (Ma’ruf Amin) dan (Ketum) Muhammadiyah (Haedar Nasir) layak dipertimbangkan,” kata Muradi lagi.

Selain itu, kata dia, bisa juga diambil dari sejumlah kepala daerah yang sukses, khususnya dari partai pengusung Jokowi.

“Sebut saja misalnya Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo,” kata ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Unpad itu.

Menurut dia, pilihan-pilihan tersebut terbuka lebar untuk Jokowi selama program-programnya dapat berjalan dengan baik.

“Akan makin meluas pilihan Jokowi untuk menentukan pilihan cawapresnya,” tegas Muradi.

Saat ditanya dari berbagai unsur itu mana yang paling berpeluang diambil Jokowi, Muradi mengatakan tergantung apa yang menjadi kebutuhan bagi petahana untuk pilpres 2019.

“Jika ingin tetap berpijak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik, maka Sri Mulyani dan Gatot atau Tito jadi pilihan,” tuntasnya