Ini Fakta Bahwa Indonesia Sudah Darurat Narkoba

0
162

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, Indonesia saat ini sudah memasuki darurat narkobaā€ˇ. Untuk itu, semua elemen negara dan bangsa harus bersatu dan bersama-sama memberantas barang haram tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Budi Waseso (Buwas) dalam acara coffee morning dengan pimpinan DPR, pimpinan sejumlah komisi di DPR, dan tokoh masyarakat di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat (31/3).

Buwas menjelaskan, narkoba yang masuk ke Indonesia jumlahnya hingga menembus ton-tonan dengan 72 jaringan aktif. Jaringan itu mampu menyembunyikan narkoba. Barang hanya keluar bila ada yang memesan. “Saat itu, baru kita bisa ambil,” kata Buwas.

Sejauh ini, kata dia, BNN sudah berhasil mengidentifikasi 11 negara yang terlibat dalam rantai penyuplai narkoba ke Indonesia. Namun biasanya suplai itu menggunakan dua negara sebagai transit yakni Malaysia dan Singapura.

Fakta itu yang membuat Buwas berkata bahwa ada perang proxy terkait narkoba di Indonesia. Ada negara yang berusaha ‘melemahkan’ Indonesia lewat pembiaran atas suplai narkoba yang berujung ke Indonesia. “Faktanya memang demikian kok,” imbuhnya.

Buwas sudah berkali-kali berusaha mengajak otoritas di kedua negara itu untuk sama-sama memberantas narkoba. “Mereka beralasan kejahatannya tak bisa ditindak kalau tak terjadi di sana. Akhirnya sampah itu masuk ke Indonesia,” kata Buwas.

Menurut Buwas, setiap jaringan narkoba bisa bertransaksi hingga Rp 3,6 triliun. Apabila transaksi itu menghasilkan keuntungan Rp 1 triliun per tahun, maka dengan asumsi 72 jaringan narkoba aktif, ada keuntungan sekitar Rp 72 triliun setahun.

Dalam 4 kasus terakhir yang ditangani BNN, para mafia narkoba sudah menggunakan senjata api pabrikan, bukan lagi rakitan. “Mereka sudah pakai senjata pabrikan. Ada M16, AK 47, Revolver. Semua pabrikan,” kata Buwas.

Selain disuplai dari luar negeri, narkoba di Indonesia juga diproduksi di dalam negeri. Uniknya meski kekuatan jaringan narkoba begitu besar, Buwas mengaku BNN seperti bekerja sendiri. “Pak Presiden sudah bilang Indonesia darurat narkoba. Tapi tak semua berbuat untuk itu. Cukup bilang serahkan saja ke Polri dan BNN, maka selesai. Padahal tak bisa seperti itu,” katanya.

Menurut dia, semua elemen pemerintahan harus berperan, termasuk masyarakat. Media massa juga harus makin masif menyosialisasikan bahaya narkoba sehingga masyarakat sadar dan melawan narkoba.

Buwas mengaku BNN sedang menyiapkan alternative development program sebagai grand design untuk membangun sistem pelibatan semua elemen dalam memberantas narkoba. “Saya ngeri melihat narkoba ini. Karena saya punya anak, punya cucu juga. Kita semua juga punya generasi penerus. Bagaimana bangsa kita ke depan kalau masalah ini dibiarkan?” kata Buwas.

Pada kesempatan itu, Buwas juga menyampaikan pentingnya Indonesia membuat laboratorium terkait narkoba. Karena ketiadaan laboratorium itu, pihaknya kerap terlambat mendeteksi produk baru narkoba. “Tanpa itu, kita akan kecolongan terus ke depan. Karena kita tidak tahu,” tandasnya.