Ini Daftar yang Diharamkan MUI Dalam Bermedia Sosial

0
198

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan Fatwa Nomor 24 Th. 2017 mengenai Hukum serta Dasar Bermuamalah Lewat Media Sosial.

Konferensi pers peluncuran fatwa MUI itu diselenggarakan di Kementerian Komunikasi serta Informatika, Senin (5/6/2017) serta di hadiri oleh Menkominfo Rudiantara.

Dalam fatwa MUI itu terdaftar banyak hal yang diharamkan untuk umat Islam dalam bermedia sosial. Pertama, lakukan gibah (mengulas keburukan orang), fitnah, namimah (adu domba), serta penyebaran permusuhan.

Ke-2, lakukan bullying, ujaran kebencian, serta permusuhan atas basic suku, agama, ras, atau antargolongan.

Ketiga, menebarkan hoaks dan info bohong walau dengan maksud baik, seperti informasi mengenai kematian orang yang masih tetap hidup.

Ke empat, menebarkan materi pornografi, kemaksiatan, serta segalanya yang terlarang dengan cara syar’i.

Ke lima, menebarkan content yang benar namun tidak cocok tempat serta/atau waktunya.

Fatwa itu mencantumkan juga kalau kaum muslim diharamkan menghasilkan, menebarkan serta/atau bikin bisa diaksesnya content/info yg tidak benar, hoaks, gibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, serta beberapa hal lain semacam berkaitan pribadi pada orang-orang.

Diluar itu MUI mengharamkan kesibukan buzzer di sosial media yang nenyediakan info diisi hoaks, gibah, fitnah, namimah, bullying, aib, isu serta beberapa hal lain semacam jadi profesi untuk peroleh keuntungan, baik ekonomi ataupun non-ekonomi.

Dalam peluang itu Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin menyampaikan, sekarang ini orang-orang tengah alami dinamika bermedia sosial yang kebablasan.

Oleh karenanya, MUI berinisiatif menerbitkan fatwa bermedia sosial untuk membenahi kembali langkah bertutur serta berlaku orang-orang, terutama umat Islam, dalam memakai sosial media.

” Problem yang kita alami ini ada sejenis dinamika yang kebablasan. Kebebasan yang terlalu berlebih serta tidak teratasi. Ini yang sebabkan content medsos tidak teratasi, ” tutur Ma’ruf.

” Oleh karenanya memng mesti dikendalikan, diatur serta diarahkan kembalikan. Kita mesti meluruskan langkah memikirkan serta langkah bertutur serta berlaku. Fatwa ini ditujukan karenanya, ” tutur dia.

Berikut ini ketentuan umum mengenai panduan menggunakan media sosial dalam Fatwa MUI 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial:

Ketentuan Hukum
• Dalam bermuamalah dengan sesama, baik di dalam kehidupan riil maupun media sosial, setiap muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu’asyarah bil ma’ruf), persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq) serta mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘an al-munkar).
• Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
• Senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan.
• Mempererat persaudaraan (ukhuwwah), baik persaudaraan ke-Islaman (ukhuwwah Islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah), maupun persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah).
• Memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan Pemerintah.
• Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk:
• Melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan.
• Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan.
• Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.
• Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i.
• Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.
• Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya haram.
• Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.
• Mencari-cari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang lain atau kelompok hukumnya haram kecuali untuk kepentingan yang dibenarkan secara syar’i.
• Memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak hukumnya haram.
• Menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya haram.
• Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram. Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.