Ini Daftar nama pahlawan dalam uang kertas rupiah baru

0
248

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengganti gambar pahlawan di uang rupiah kertas dan logam. Ada 12 nama pahlawan yang sudah ditetapkan. Keputusan ini tertuang dalam Keppres No 31 Tahun 2016 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional sebagai Gambar Utama pada Bagian Depan Rupiah Kertas dan Rupiah Logam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Para pahlawan ini terpampang di uang NKRI, yaitu uang yang ditandatangani Gubernur Bank Indonesia (BI) dan Menteri Keuangan (Menkeu). Berikut beberapa nama pahlawan yang dihimpun MAKASSARTERKINI.com sesuai sejarah singkat terkait kepahlawanan mereka.

Ir H Juanda

Ir Raden Haji Djoeanda Kartawidjaja atau Juanda Kartawijaya lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 14 Januari 1911 dan meninggal di Jakarta, 7 November 1963 pada umur 52 tahun adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Ia menjabat dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.

Sumbangannya yang terbesar dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda 1957 yang menyatakan laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (Unclos).

Namanya diabadikan sebagai nama Lapangan Udara (Lanud di Surabaya, Jawa Timur yaitu Bandara Djuanda atas jasanya dalam memperjuangkan pembangunan lapangan terbang tersebut sehingga dapat terlaksana. Selain itu juga diabadikan untuk nama hutan raya di Bandung yaitu Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, dalam taman ini terdapat Museum dan Monumen Ir H Djuanda.

Djuanda wafat di Jakarta 7 November 1963 karena serang jantung dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No 244/1963 Ir H Djuanda Kartawidjaja diangkat sebagai tokoh nasional/pahlawan kemerdekaan nasional.

Sam Ratulangi

Dr Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi, lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890 dan meninggal di Jakarta, 30 Juni 1949 pada umur 58 tahun. Sam Ratulangi adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia dari Sulawesi Utara, Indonesia.

Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia juga sering disebut-sebut sebagai tokoh multidimensional. Ia dikenal dengan filsafatnya: “Si tou timou tumou tou” yang artinya “manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia”.

Sam Ratulangi juga merupakan Gubernur Sulawesi yang pertama. Ia meninggal di Jakarta dalam kedudukan sebagai tawanan musuh pada 30 Juni 1949 dan dimakamkan di Tondano. Namanya diabadikan dalam nama Bandar Udara (Bandara) di Manado yaitu Bandara Sam Ratulangi dan Universitas Negeri di Sulawesi Utara yaitu Universitas Sam Ratulangi.

Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School) di Tondano, lalu ia melanjutkannya di Hoofden School (Sekolah Raja setingkat SMA), Tondano dan menyelesaikan Sekolah Teknik Koninginlijke Wilhelmina School (saat ini bernama SMK Negeri 1 Jakarta Budi Utomo) bagian mesin, Jakarta pada 1908. Pada 1915, Sam Ratulangi berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek) di Universitas Amsterdam (Universiteit van Amsterdam), Belanda. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan studi ke Swiss dan mendapat gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr Phil) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zurich pada 1919.

Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1912 dan meninggal di Jayapura, Papua, 10 April 1979 pada umur 66 tahun adalah pahlawan nasional Indonesia dari Papua. Frans terlibat dalam Konferensi Malino di 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti beruap.

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua antara 1964-1973. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Bandara Frans Kaisiepo di Biak.

Idham Chalid

Dr KH Idham Chalid lahir di Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921 dan meninggal di Jakarta, 11 Juli 2010 pada umur 88 tahun. Ia adalah salah satu politisi Indonesia yang berpengaruh pada masanya. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. Selain sebagai politikus ia aktif dalam kegiatan keagamaan dan pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama (NU) pada 1956-1984.

Sejak kecil Idham dikenal sangat cerdas dan pemberani. Saat masuk sekolah rakyat (SR) ia langsung duduk di kelas dua dan bakat pidatonya mulai terlihat dan terasah. Keahlian berorasi itu kelak menjadi modal utama Idham Chalid dalam meniti karier di jagat politik.

Selepas SR, Idham melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ar-Rasyidiyyah pada 1922. Idham, yang sedang tumbuh dan gandrung terhadap pengetahuan, mendapatkan banyak kesempatan untuk mendalami bahasa Arab, bahasa Inggris, dan ilmu pengetahuan umum. Kemudian Idham  melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Gontor yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur. Kesempatan belajar di Gontor juga dimanfaatkan Idham untuk memperdalam bahasa Jepang, Jerman, dan Perancis.

Tamat dari Gontor pada 1943, Idham melanjutkan pendidikan di Jakarta. Di ibu kota, kefasihan Idham dalam berbahasa Jepang membuat penjajah Dai-Nipon sangat kagum. Pihak Jepang juga sering memintanya menjadi penerjemah dalam beberapa pertemuan dengan alim ulama. Dalam pertemuan-pertemuan itulah Idham mulai akrab dengan tokoh-tokoh utama NU.

Ketika Jepang kalah perang dan Sekutu masuk Indonesia, Idham Chalid bergabung ke dalam badan-badan perjuangan. Menjelang kemerdekaan, ia aktif dalam Panitia Kemerdekaan Indonesia Daerah di Kota Amuntai. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia bergabung dengan Persatuan Rakyat Indonesia (PRI), partai lokal, kemudian pindah ke Serikat Muslim Indonesia (SMI).

Pada 1947, ia bergabung dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan yang dipimpin Hasan Basry yang juga muridnya saat di Gontor. Usai perang kemerdekaan, Idham diangkat menjadi anggota Parlemen Sementara RI mewakili Kalimantan. Pada 1950, ia terpilih lagi menjadi anggota DPRS mewakili Masyumi. Ketika NU memisahkan diri dari Masyumi di 1952, Idham memilih bergabung dengan Partai Nahdlatul Ulama (NU) dan terlibat aktif dalam konsolidasi internal ke daerah-daerah.

Idham memulai kariernya di NU dengan aktif di GP Ansor. Pada 1952, ia diangkat sebagai ketua PB Ma’arif, organisasi sayap NU yang bergerak di bidang pendidikan. Pada tahun yang sama, ia juga diangkat menjadi sekretaris jenderal partai, dan dua tahun kemudian menjadi wakil ketua. Selama masa kampanye Pemilu 1955, Idham memegang peran penting sebagai ketua Lajnah Pemilihan Umum NU.

MH Thamrin

Mohammad Husni Thamrin lahir di Weltevreden, Batavia (Jakarta), 16 Februari 1894 dan meninggal di Senen, Batavia, 11 Januari 1941 pada umur 46 tahun. Ia adalah seorang politisi era Hindia Belanda yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia.

Ayahnya adalah seorang Belanda dengan ibu orang Betawi. Sejak kecil, ia dirawat pamannya dari pihak ibu karena ayahnya meninggal, sehingga ia tidak menyandang nama Belanda. Sementara itu, kakeknya, Ort warga Inggris, merupakan pemilik hotel di bilangan Petojo, menikah dengan seorang Betawi yang bernama Noeraini.

Ayahnya, Tabri Thamrin adalah seorang wedana di bawah gubernur jenderal Johan Cornelis van der Wijck. Setelah lulus dari Gymnasium Koning Willem III School te Batavia, Thamrin mengambil beberapa jabatan sebelum bekerja di perusahaan perkapalan Koninklijke Paketvaart-Maatschappij.

Munculnya MH Thamrin sebagai tokoh pergerakan yang berkaliber nasional tidaklah tidak mudah. Untuk mencapai tingkat itu ia memulai dari bawah, dari tingkat lokal. Ia memulai geraknya sebagai seorang tokoh (lokal) Betawi. MH Thamrin sejak  muda telah memikirkan nasib masyarakat Betawi  yang  sehari-hari  dilihatnya.  Sebagai anak wedana, ia tidaklah terpisah dari “rakyat jelata”.

Tjoet Nyak Meutia

Tjoet Nyak Meutia atau Cut Meutia lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara pada 1870 dan wafat di Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910. Ia adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada 1964.

Awalnya, Tjoet Meutia melawan Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun, pada Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.

Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausee di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada 26 September 1910.

Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun, pada 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukannya bentrok dengan Marechausee di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Njak Meutia gugur.