Indikasi-Indikasi Adanya Perpecahan di antara pendukung pemerintah

0
234

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini dinilai memiliki waktu yang tepat untuk mengevaluasi partai-partai politik pendukung pemerintahanannya. Jika tidak ingin citranya semakin rusak.

Pengamat politik Jajat Nurjaman menjelaskan, parpol pendukung kerap melakukan blunder dan tindakan yang tidak sejalan dengan Jokowi. Terakhir, aksi penggalangan massa pada 4 Desember atau 412 yang oleh banyak pihak disebut sebagai tandingan aksi damai umat Islam dua hari sebelumnya atau 212. Hal itu berpotensi memperkeruh suasana politik semakin memanas.

“Padahal presiden berulang kali mengimbau setiap pihak agar menjaga kesejukan dan stabilitas bangsa. Bahkan, presiden sendiri hadir menemui massa 212 dan mengapresiasi aksi super damai tersebut,” ujarnya kepada redaksi, Senin (5/12/2016).

Menurut Jajat, secara politik, Jokowi telah dirugikan dengan digelarnya Parade Kita Indonesia (PKI) yang dimotori Partai Golkar dan Partai Nasdem dengan menunggangi kegiatan rutin car free day (CFD). Karena banyak yang menduga itu merupakan aksi balasan dari aksi damai umat Islam pada 2 Desember dengan menggelar sholat Jumat berjamaah di Silang Monas.

“Yang menarik dalam hal ini adalah adanya pengabaian himbauan presiden oleh partai pendukung pemerintah untuk menjaga kesejukan dan menghindari segala potensi yang dapat memicu perpecahan masyarakat. Massa seolah dikotak-kotakkan antara pendukung 212 dan 412, tentu ini berbahaya bagi keutuhan dan persatuan bangsa,” jelasnya.

Jajat memastikan bahwa penyelenggaraan Parade Kita Indonesia (PKI) juga melanggar Peraturan Gubernur 12/2016 yang diteken Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sehingga ada kesan sewenang-wenang untuk melanggar pergub dengan memanfaatkan kedekatan dengan penguasa oleh parpol pendukung pemerintah.

Apalagi, ketidakhadiran partai lain dalam parade juga memperlihatkan tidak adanya kekompakan sesama partai pendukung pemerintah. Hal ini semakin memperkuat dugaan adanya perpecahan di antara pendukung pemerintah.

“Jika citra Presiden Jokowi tidak ingin terlihat buruk, ini merupakan momen penting bagi Jokowi untuk segera melakukan evaluasi dan mewaspadai adanya musuh dalam selimut. Karena selama ini partai pendukung pemerintah hanya memanfaatkan kedekatannya dengan Jokowi untuk kepentingannya masing-masing,” tegas Jajat yang juga direktur eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID).