Ibukota Negara DKI Jakarta Tercatat Sebagai Pasar Potensial Sindikat Narkoba Internasional

0
173

Ibukota negara telah menjadi pasar potensial sindikat narkoba internasional. Selama satu bulan terakhir, tercatat lebih dari 1,2 ton sabu telah disita oleh Polda Metro Jaya. Jakarta menjadi “surga” para bandar narkoba internasional.

Membanjirnya kiriman sabu ke Ibukota dilatarbelakangi adanya permintaan yang cukup tinggi sehingga banyaknya bandar besar internasional yang akhirnya mengarahkan pemasarannya di Indonesia.

“Kita akui memang adanya permintaan yang tinggi sehingga mereka mengirim ke sini,” kata Direktur Reserse NarkobaPolda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta,  menjawab pertanyaan wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (24/7/2017).

Membanjirnya kiriman sabu disebutkan Nico terkait erat dengan ketatnya pengawasan ketat petugas terhadap home industry narkoba di dalam negeri. Karena  tak lagi menjadi produsen, maka narkoba akhirnya dipasok para sindikat dari luar seperti Cina dan Malaysia.

Tingginya demand (permintaan) sabu di Tanah Air, seperti disampaikan Nico, terlihat dari harga pasaran per gram yang mencapai Rp1,5 juta. “Di luar sana sekitaran Rp200-500 ribu. Sehingga untung yang diperoleh bandar besar juga cukup besar dibanding di negara asalnya seperti Cina,” sebutnya.

Saat ini diperkirakan pengguna aktif sabu di Jakarta sebanyak 1,2 juta orang atau 5% dari pengguna di seluruh Indonesia. Pengguna di Jakarta sendiri adalah mereka yang berusia 25-30 tahun dimana usia ini adalah usia produktif.

“Jadi kebanyakan (pemakainya) bukan pelajar justru usia produktif yang memakainya,” tegasnya. ‎

Nico menjelaskan permintaan sabu kebanyakan berasal dari perorangan.  Untuk kampung-kampung narkoba justru saat ini semakin kecil permintaannya. “Kalau dulu ada kampung Ambon dan Kampung Bali. Kampung Bahari pun sudah menurun permintaannya karena sering kita obrak-abrik,” ujarnya.