Hebat, Joe Taslim Makin Mendunia, Kali Ini Jadi Bintang Film Korea Terbaru

0
85

PADA Lebaran kali ini Joe Taslim, 36, memberikan hadiah untuk fans dengan film baru, Surat Kecil untuk Tuhan (SKUT). Bulan depan dia dijadwalkan ke Korea Selatan untuk syuting. Ayah tiga anak itu kembali dipercaya berakting bersama rumah produksi internasional. Pemeran karakter Manas dalam Star Trek Beyond tersebut terlibat dalam pembuatan film kolosal Korea berjudul Swordsman. Dia berakting bersama aktor Korea Jang Hyuk. Perannya adalah Gurutai, seorang komandan ahli pedang dari kerajaan Dinasti Qing yang dikenal kejam. Berikut wawancara dengannya:

Bagaimana rasanya dipercaya bermain film kolosal Korea? Saya bulan depan ke Korea untuk syuting Swordsman. Dari yang film ini (SKUT) sentimental, saya akan switch dengan karakter keras. Itulah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi, tugas aktor memang mengubah diri menjadi berbagai karakter seperti itu. Buat saya, ini merupakan suatu pekerjaan seru. Apa yang bisa kita angkat, kita gali, untuk menguatkan karakter yang kita mainkan. Pada Swordsman, saya menjadi sosok yang keras. Tapi mungkin ke depan, saya mendapatkan tawaran main film lembut lagi. Ini hal yang tidak membosankan.

Berapa proyek film tahun ini? Tahun ini ada dua film Indonesia yang sudah selesai (syuting). Yang pertama The Night Comes for Us dan Surat Kecil untuk Tuhan. Tahun ini proyek di Indonesia sudah kelar. Dan film Korea itu menjadi proyek film di luar negeri.

Apa yang membuatmu tertarik menjadi bagian Swordsman? Pastinya tantangan. Soalnya, saya mainin karakter yang beda. Dari culture, saya mainin dengan bahasa yang baru. Jadi harus belajar bahasa baru dan bela diri baru. Itu hal yang menyenangkan sih buat saya. Saya enggak bisa bahasa Korea, tapi harus ada dialog berbahasa Korea. Itu PR buat saya. Jadi, saya harus belajar lagi. Karakternya nanti saya jago pedang, padahal enggak bisa pakai pedang. Jadi, saya harus belajar lagi. Tangan saya sampai lepuh-lepuh semua (saat latihan pedang). Dan itu seru. Bagi saya sih, proses-proses tersebut menyenangkan. Karena pada saat memainkan karakter tersebut, kita mempresentasikan kepada penonton, tanggung jawab kita berakting itu sampai kepada penonton atau enggak. Kita udah ngasih yang terbaik. Itulah kepuasan batin buat saya.

Apa perbedaan bermain film di dalam dan luar negeri? Saya rasa sama saja ya. Tanggung jawab sama. Sebagai aktor, memang kita harus menyampaikan karakter. Perbedaan bukan sesuatu yang harus jadi masalah karena kita di lokasi syuting buat syuting. Tujuannya itu sih. Yang lain-lain menyesuaikan. Tapi, intinya syuting di sana atau syuting di sini, kita sama-sama datang ke lokasi untuk memainkan karakter dengan baik.

Bagaimana sampai mendapatkan kontrak film tersebut? Tahun lalu saya ke Korea dapat award (Joe mendapatkan penghargaan dalam kategori Best APAN Star di APAN Star Awards, Oktober 2016, di Korea Selatan), terus di sana ketemu orang TV, sutradara, dan pemain-pemain film lainnya. Akhirnya dapat network baru, kenalan. Dan mereka sounding bahwa ada film yang ingin dimainkan orang yang bukan dari Korea. Tapi, tantangannya bahasa. Harus bisa belajar memainkan karakternya dengan beberapa bahasa yang harus dikuasai. Tetapi, saat itu kami hanya ngobrol-ngobrol. Saya pulang ke Indonesia, tiba-tiba mereka kirim script. Saya baca, saya merasa tertantang. Karakter ini belum pernah saya mainkan dan sangat menarik.

Apakah sebagai pemain utama? Saya di sini sebagai salah seorang lead actor karena ada tiga lead actor yang jago pedang. Saya salah satunya. Jadi, film ini akan kembali ke periode zaman kolosal dulu.

Berapa lama latihan? Kemarin saya sudah di sana dua minggu. Setiap hari latihan dari pagi sampai sore. Karena ada kesibukan untuk SKUT juga, saya harus memaksimalkan waktu yang ada. Terus, di sela-sela break syuting (SKUT), saya latihan (pedang dan bahasa) lagi. Nonstop sih kerja tahun ini.

Apakah di Swordsman akan menyisipkan bahasa Indonesia seperti Fast and Furious 6? Tidak. Kalau film ini beda dengan yang dulu. Kalau di Fast and Furious 6 itu kan saya berperan sebagai orang Asia, tapi dia enggak bilang Asianya di mana. Dan di situ saya bisa lempar bahasa Indonesia. Tapi, kalau yang saya main pada Swordsman ini bukan orang Indonesia. Jadi, saya harus bisa transformasi jadi orang yang ada di karakter itu. Seru kan..