Fokus Pemerintah Pecah Karena Kegaduhan Politik

0
199

Dalam kurun waktu Januari hingga Desember 2016 ini setidaknya ada beberapa isu politik yang mengakibatkan kegaduhan dan menguras energi dilingkungan Istana Kepresidenan hingga nasional. Isu-isu tersebut seperti reshuffle Kabinet, Kewarganegaraan ganda Menteri ESDM Arcandra Tahar hingga Demonstrasi Bela Islam yang berujung dugaan tindakan makar.

Selain itu, isu keamanan juga ikut menghiasi kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla pada tahun 2016 seperti aksi terorisme sebagaimana adanya ledakan bom di jantung Ibu Kota tepatnya di Jalan MH Thamrin pada 14 Januari 2016, pengungkapan bom di Bekasi, Jawa Barat yang salah satu targetnya Istana Negara.

Isu dan peristiwa tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan Jokowi-JK agar ke depan tidak terulang kembali sehingga kepemimpinannya bisa fokus untuk membangun Indonesia serta memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

Di saat orang beranggapan bahwa kondisi kemanan Ibu Kota Jakarta aman dan tenang karena perayaan Natal 2015 dan Tahun Baru 2016 berjalan lancar, aparat dan warga pun melakukan aktivitasnya seperti biasa. Namun, tidak disangka-sangka sekitar jam 10.40 WIB terjadi ledakan keras di Starbucks Cafe, Sarinah, Jl Thamrin, Jakarta. Aksi itu mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka.

Pada saat yang sama, ada dua orang yang menyerang Pos Polisi Lalu Lintas di Simpang Sarinah. Saat kejadian, ada satu orang anggota Polsek Menteng yang sedang bertugas di sana. Pospol sendiri diserang dengan bom bunuh diri sehingga anggota polisi terluka, sementara pelakunya meninggal dunia.

Kasus inipun cukup menyita perhatian baik itu dalam maupun luar negeri karena jumlah korban mencapai 34 orang, dimana delapan orang meninggal dunia. Sementara sisanya sebanyak 26 orang mengalami luka-luka. Delapan orang yang meninggal dunia itu, lima orang dari terduga teroris dan tiga dari sipil.

Setelah persoalan teror mereda, Istana kembali disibukkan dengan adanya isu pergantian kabinet atau Reshuffle. Isu ini dihembuskan elit politik agar Presiden mengambil keputusan dengan mengganti menteri yang dinilai tidak memberikan kontribusi terhadap pemerintahan. Isu ini sendiri dihembuskan sejak Maret 2016.

Sejak isu tersebut dihembuskan, kegaduhan pun mulai terlihat dari elit politik yang berkepentingan agar ada koleganya yang masuk dalam pemerintahan. Presiden Jokowi yang mendengar hal itu pun meras gerah dan minta kepada elit tidak mendikte agar melakukan pergantian menteri.

Reshuffle jilid II yang dilakukan oleh Presiden Jokowi ada 12 nama baru di antaranya Menteri ESDM Arcandra Tahar. Setelah Reshuffle kabinet, harapan akan kondisi politik akan tenang pun menyeruak. Namun, harapan itu hanya di awang-awang saja karena pada awal-awal bulan Agustus 2016 Istana kembali dibuat rame dan gaduh terkait isu kewarganegaraan ganda Menteri ESDM baru Arcandra Tahar.

Jaga Kemajemukan

Lepas dari persoalan itu, pada bulan November-Desember 2016, Istana kembali diterpa isu tidak menengenakkan. Berawal dari kasus hukum yang menimpa Gubernur Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama yang diduga menistakan agama, beberapa kelompok melakukan aksi demonstrasi. Demo digelar pada 4 September (4/11), 2 Desember (2/12) dan 12 Desember (12/12).

Saat aksi itu siatuasi lumayan panas karena tuntutan yang diminta ormas agar Basuki dihukum. Bahkan, sebelum aksi 2 Desember digelar, Isu adanya makar pun menyeruak sehingga ada beberapa orang diamankan oleh aparat keamanan.

Dalam rentang waktu itu, Presiden juga melakukan beberapa kegiatan dengan mengumpulkan para alim ulama, pengasuh pondok pesantren, pimpinan ormas islam, pasukan elite di TNI dan Polri serta elite Politik untuk meminta masukan terkait kondisi yang dialami Indonesia. Selain itu, Presiden juga memberikan tugas agar semua pihak tetap menjaga kebinekaan dan kemajemukan.

Apa yang dilakukan oleh Presiden tersebut akhirnya membuahkan hasil nyata, beberapa aksi yang melibatkan massa banyak tersebut tidak membuat situasi menjadi buruk. Dan, Semua berjalan tertib hingga saat ini. Semoga 2017 mendatang, isu-isu yang terjadi di 2016 ini tidak terulang lagi.