Fatwa MUI Tentang Atribut Nonmuslim Jangan Dibesar-besarkan!!!

0
187

Sekretaris Jenderal Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta Novel Chaidir Hasan Bamukmin berharap agar masyarakat jangan terlalu membesar-besarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan pengunaan atribut nonmuslim.

Pasalnya, fatwa serupa sudah pernah dikeluarkan MUI pada 1981. Kala itu MUI dipimpin Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), mengeluarkan fatwa yang bunyinya menganjurkan umat Islam tak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal. Mengikuti upacara Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya haram.

“Jadi kalau saya melihat gak usah heboh, karena fatwa ini sudah lama sebenarnya. Karena fatwa pengucapan selamat Natal dan merayakan Natal bersama, udah ada sejak tanggal 7 Maret 1981 sudah ada fatwa,” ujar Novel kepada Netralnews.com, Rabu (21/12/2016).

Begitu juga fatwa serupa, disebut Novel, pernah dikeluarkan MUI pada 2005 silam, tentang pluralisme, sekulerisme, dan liberalisme.

“Kemudian disempurnakan lagi Fatwa MUI tahun 2005, MUI mengeluarkan 11 ketetapan fatwa, salah satunya adalah Fatwa nomor 5 adalah pluralisme, sekularisme, dan liberalisme,” paparnya.

Karena itu, Novel menjelaskan, fatwa haram bagi umat muslim yang menggunakan atribut nonmuslim hanyalah memperjelas dari fatwa yang sudah ada sebelumnya.

“Nah masalah atribut ini untuk memperjelas fatwa MUI sebelumnya, karena berkenan dengan atribut itu adalah lambang, lambang daripada agama tertentu, yang mana lambang-lambang agama tertentu juga haram untuk dipakai Islam,” ungkapnya.

Selain itu, bagi perusahaan yang memaksakan karyawannya menggunakan atribut nonmuslim, ditegaskan Novel, juga melanggar UUD 1945 pasal 29 tentang kebebasan beragama.

“Artinya MUI mengambil langkah tegas untuk menjamin akidah umat Islam dan mereka yang mempunyai perusahaan memaksakan itu adalah melanggar hak asasi manusia, karena manusia dilindungi oleh Pasal 29 untuk menjalankan kebebasan beragama, tidak ada pemaksaan dalam beragama,” jelasnya.

Seperti diketahui, MUI mengeluarkan fatwa Nomor 56 Tahun 2016, tentang menggunakan atribut keagamaan nonmuslim. Dalam fatwa tersebut, MUI menegaskan hukum menggunakan atribut keagamaan nonmuslim adalah haram termasuk mengajak dan/atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan nonmuslim adalah haram.