Fakta-Fakta Kasus Chat Panas Antara Habib Rizieq dan Firza Husein

0
868

Soal kasus percakapana panas antara Firza Husein dan Habib Rizieq saat ini tengah ditangani oleh pihak kepolisian. Diantaranya adalah memeriksa ponsel dari kedua pelaku untuk mengetahui isi percakapannya.

Penyidik dari Polda Metro Jaya memang telah melakukan penyitaan terhadap ponsel keduanya. Baik Imam Besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab atau Firza telah diperiksa.

Apa yang dilakukan oleh polisi itu memang bukan tanpa sebab, pasalnya ada dugaan kedua pekaku terlibat dalam kasus percakapan seks dan foto hot.

Sehingga telepon genggam keduanya dilakukan penyitaan dan saat ini tengah dalam proses penyelidikan untuk kasus pornografi. Pasalnya kasus tersebut saat ini tengah ditangani oleh penyidik Ditreskrimsus.

Polda Metro Jaya mengatakan jika pihaknya sudah mengetahui adanya komunikasi dua arah antara Firza Husein dan Habib Rizieq. Akan tetapi untuk komunikasinya mengenai apa belum bisa diungkapkan.

Kbid Humas Polda Metro jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyebutkan jika isi dari ponsel itu masih dalam penyeldikan. Pasalnya saat ini pihaknya masih menyesuaikan temuan.

Argo mengatakan jika penyidik tengah mendalami percakapan melalui aplikasi percakapan WhatsApp. Tak terkecuali soal foto hot yang dikirim melalui percakapan tersebut.

Semua informasi yang ingin didapat polisi itu digali dari ponsel kedua terduga. Sehingga dilakukanlah penyitaan barang bukti berupa ponsel dari kedua pihak.

Selain itu penyidik Ditreskrimsus juga menyita sejumlah barang di rumah orang tua Firza Husein. Diantaranya adalah sprei, sarung bantal dan televisi yang disita oleh polisi.

Akan tetapi pernyataan dari pihak kepolisian itu juga sempat dibantah oleh Kuasa Hukum Habib Rizieq Shihab, Sugito Atmo Pawiro. Ia mengatakan jika telepon genggam dari kliennya belum pernah di sita.

Dijelasikan jika memang ada peyitaan ponsel namun milik anggota FPI lainnya dan bukan dari Rizieq. Pemilik ponsel itu disita lantaran sempat berkomunikasi dengan tersangka penodaan terhadap lambang negara dan Presiden Sukarno itu.