Facebook Dalang Kemenangan Donald Trump di Pilpres AS?

0
327

Beberapa pihak menyalahkan jejaring sosial seperti Facebook atas kemenangan Trump.

Biang kerok yang dituding adalah mekanisme algoritma News Feed yang mencoba menyajikan hal-hal yang disukai pengguna saja.

Walhasil, ketika seorang teman membagikan konten yang sebenarnya salah (misalnya teori konspirasi seorang kandidat presiden) tapi sesuai dengan pandangan dan kesukaan pengguna, maka konten tersebut tetap akan ditampilkan di News Feed Facebook.

Sebaliknya, konten yang benar tapi tidak sesuai dengan pandangan dan kesukaan pengguna tidak ditampilkan sehingga lama kelamaan terbentuk “filter bubble” yang mencampuradukkan fakta dengan fiksi dan semakin memperkuat pandangan awal pengguna.

Efek hal tersebut semakin terasa karena sebagian besar orang dewasa di AS (sebanyak 63 persen) mengandalkan Facebook sebagai sumber berita mengenai isu-isu terkini, menurut sebuah survei dari Pew Research Center.

Facebook menerapkan algoritma News Feed yang disesuaikan dengan preferensi pengguna ini untuk menjaga engagement.

Kalau pengguna banyak melihat hal yang tidak disukai atau berlawanan dengan pandangannya, besar kemungkinan ia akan hengkang sehingga akibatnya buruk untuk bisnis Facebook.

Jejaring sosial itu tidak merasa bertanggung jawab menyajikan konten yang berimbang ke hadapan pengguna.

“(Perusahaan media) punya orang-orang yang menyunting konten,” kata Founder Facebook Mark Zuckerberg Agustus lalu. “Itu bukan kami.. Kami perusahaan teknologi, bukan perusahaan media.”