Elektabilitas Ahok-Djarot Makin Turun, Apa Strategi Timses?

0
298

Demonstrasi kolosal yang menyasar Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ternyata sangat efektif untuk menjungkal elektabilitas petahana itu dalam sejumlah survei terbaru. Elektabilitas Ahok dan Djarot Saiful Hidayat terjun bebas menjelang pemilihan gubernur, 15 Februari 2017 mendatang. Hal ini jika merujuk kepada hasil survei Charta Politika, yang dilakukan pada 17-24 November 2016, setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka.

Hasil jajak pendapat Charta Politika, pasangan Agus-Sylviana berada di urutan teratas dengan 29,5 persen suara, Ahok-Djarot 28,9 persen, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno 26,7 persen. Sementara itu, responden yang belum menentukan pilihan sebanyak 14,9 persen.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan jumlah sampel 733 responden. Metode yang digunakan adalah acak bertingkat dengan simpang kesalahan +-3,5 persen, yang membuat tiap pasangan calon berpeluang untuk kalah maupun maju putaran kedua.

Strategi Timses?

Karakter survei memang bergerak secara dinamis. Jadi, siapa pun berpeluang untuk merebut kemenangan mengingat ketatnya perolehan suara, termasuk Ahok.

Didukung partai besar berpengalaman, seperti PDIP dan Golkar, tim Ahok tak akan kehilangan ide. Langkah pertama yang akan mereka lakukan adalah menahan penggerusan suara dari umat Islam yang semakin hari kian menjauh.

Pada survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dirilis 10 November 2016, setelah demo kolosal pertama, pasangan Ahok-Djarot Saiful Hidayat hanya dipilih oleh 18,80 umat Muslim. Padahal, pada Oktober 2016, Ahok dipilih 28,9 persen pemilih Muslim. Tren berpalingnya pemilih Muslim ini harus dapat ditahan, atau bahkan dinaikkan, jika tidak ingin terkapar di putaran pertama.

Langkah kedua adalah dengan mengambil suara dari swing voter yang mencapai 14,9 persen tersebut. Tim sukses harus mengetahui karakteristik massa mengambang ini, dari sisi kelas ekonomi, pendidikan hingga agama. Sebab, tiap-tiap kelas akan membutuhkan strategi berbeda.

Faktor agama misalnya, untuk kasus Ahok pada Pilkada kali ini, harus diakui menjadi faktor utama pergeseran suara. Efek dugaan penistaan Surah Almaidah dan resistensi terhadap pemimpin beda agama yang tengah ramai menjadi pembicaraan di masyarakat sangat efektif menurunkan elektabilitas Ahok.

Ketiga, jika tidak mau buntung, tim sukses harus mampu menaikkan kesukaan warga DKI kepada Ahok. Kesukaan sangat efektif mengarahkan kepada pemilihan. Tentu saja hal ini harus dilakukan dengan cara-cara elegan, terutama memoles citra Ahok dan menguar-uar keberhasilan kebijakan calon petahana tersebut.

Bertubi-tubi didemo saat kampanye secara langsung dapat mempengaruhi citra Ahok sebagai gubernur yang dicintai warganya. Demo-demo kecil menolak kedatangan Ahok tentu sulit dieliminasi karena hak bersuara dijamin oleh UU dalam alam demokrasi.

Tim sukses harus putar otak untuk mengimbangi setiap antitesis dengan langkah-langkah cerdas untuk membalik keadaan. Hal ini belum kelihatan jelas dilakukan oleh Timses Ahok-Djarot. Jika melawannya dengan mengandalkan media sosial seperti yang terlihat, tentu timses Agus-Sylviana dan Anies-Sandi juga melakukannya.

Timses Ahok-Djarot, jika tak ingin gigit jari, harus melakukan strategi-stretegi lain yang tak terduga seperti yang pernah dilakukan Jokowi-JK pada Pilpres 2014 untuk mengalahkan Prabowo-Hatta yang saat itu unggul dalam sejumlah survei.

Hal lain yang belum bisa dilakukan tim Ahok-Djarot adalah membuat isu. Yang terjadi justru pasangan yang mereka dukung menjadi bulan-bulanan isu yang dikendalikan oleh lawan-lawan politik. Jika timses di dua bulan terakhir tidak melakukan langkah-langkah strategis, Ahok bisa dipastikan keok.