Debat Pilgub DKI, Gaya Kemimpinan dan Karakter Sudah Terlihat

0
319

Para calon gubernur DKI Jakarta telah usai melaksanakan debat perdananya. Dalam debat perdana ini, ada sejumlah catatan yang patut kita simak.

Catatan tentu bukan soal si pembawa acara Ira Koesno yang mendadak paling mencuri perhatian di ranah sosial media usai debat pertama. Sebab, pada bahasan kali ini, sisi yang akan dibahas adalah soal relevansi debat sebagai cara mengukur gaya kepemimpinan masing-masing calon.

Dari debat pertama, kita bisa menganalisis gaya kepemimpinan masing-masing calon dari ucapan maupun latar belakangnya.

Calon pertama Agus Yudhoyono (AHY) dan Slylviana Murni tampak jelas karakter yang melekat lazim dimiliki tentara dan birokrat.

Sepanjang debat, terlihat gaya normatif dan aman dari kedua pasangan ini. Dalam berargumentasi, pasangan ini tampak lebih fokus pada janji-janji yang umum kepada masyarakat.

Jualannya adalah janji bantuan langsung sementara tunai serta bantuan dana bergulir.

Sedangkan dalam berdebat, pasangan nomor satu tampak mencoba menghindari ‘konflik’ dengan pasangan lain. Kalaupun ada serangan, dikemas dalam bahasa yang normatif dan tak langsung menyasar kepada kandidat lain.

Ini tercermin dari ucapan AHY saat ditanya soal pendidikan moral. Dalam retorikanya, AHY menyoroti karakter si pemimpin harus menjadi contoh. Di sisi ini, AHY tak langsung menyerang karakter si pejawat yang tak patut dicontoh karena kerap berkata kasar di depan publik.

Sebaliknya, pasangan calon nomor dua Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot memiliki karakter yang menyerupai seorang CEO perusahaan atau pengusaha.

Bahasa yang dikeluarkan lebih frontal. Ahok secara terbuka berani ‘berkonflik’ dengan calon lain. Sebagai pejawat, dia pun tampak percaya diri memperlihatkan data kemajuan di era pemerintahannya.

Ini seperti penutupan diskotek dan pembangunan Kalijodo. Jualan utama Ahok adalah program yang dianggapnya berhasil dan mesti dilanjutkan lima tahun kemudian.

Sedangkan padangan nomor urut tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno lebih menonjolkan karakter yang taktis, runut, dan rasional. Karakter yang khas dimiliki seorang ilmuan.

Dalam berdebat, Anies tampak begitu dialektis. Dengan sejumlah antitesisnya yang mampu mematahkan sejumlah argumentasi pasangan lawan.

Salah satu contoh nyata bagaiamana Anies mampu menangkis serangan Ahok tentang ekspoitasi penggusuran yang dijadikan janji yang memanipulasi rakyat.

Anies malah membongkar janji politik Ahok lima tahun lalu soal kampung deret yang juga pernah disampaikan saat forum debat. Bahkan saat itu, eksperimen kampung deret tepi sungai disampaikan pasangan Ahok-Jokowi dengan membawa alat peraga lengkap dengan gambarnya.

Anies mampu membuktikan secara terukur bahwa konsep tidak menggusur di pinggiran kali sebenarnya ada tesisnya. Tapi malah tesis yang pernah disampaikan Ahok bersama pasangannya Jokowi pada 2012, dilanggar sang pejawat sendiri.

Secara tak langsung Anies membuktikan ucapan Ahok saat debat tak sesuai kenyataan.

Secara umum, ada elemen masing-masing yang jadi jualan ketiga pasangan calon. Pasangan pertama menjanjikan stabilitas. Pasangan kedua lebih menawarkan pembangunan yang berorientasi fisik. Pasangan ketiga lebih menekankan pembangunan manusia.

Jika disimpulkan dalam debat pertama, AHY yang berlatar tentara lebih menonjolkan karakter normatif dan aman. Sementara Ahok lebih menonjolkan karakter pengusahanya yang menggebu dan berani ambil risiko. Sedangkan Anies yang berlatar ilmuan tampak kuat karakter artikulatif, saintifik, dan tajam.

Dengan gaya dan backgroud masing-masing calon yang sangat berbeda, pemilih sejatinya ditawarkan sejumlah pilihan yang rasional. Ini semua soal selera dan pilihan gaya kepemimpinan. Ketiga gaya ini sama-sama menjadi tesis sekaligus antitesis satu sama lain.

Pemimpin bergaya normatif membawa stabilitas bagi lingkungan yang heterogen, seperti Jakarta maupun Indonesia. Dengan stabilitas ini, segala iklim yang menjadi syarat kemajuan sebuah wilayah bisa terpenuhi. Pemimpin seperti ini bisa menjamin kesatuan dan NKRI.

Sebab, pemimpin bergaya normatif bisa berada di tengah. Tidak terlalu ke kubu kanan ataupun kiri. Dengan gaya seperti ini, pemimpin dengan gaya kepemimpinan tak terlalu menimbulkan friksi. Yang pro terhadapnya tak terlalu fanatik. Pun halnya yang kontra terhadap pemerintahannya, tak terlalu reaktif.

Pada akhirnya, stabilitas bisa terjaga. Dengan stabilitas, kemajuan di segala sektor menjadi sebuah keniscayaan. Walau kemajuannya datang secara bertahap dan cenderung lebih lama. Pemerintahan pemimpin yang normatif bisa terkesan membosankan, minus terobosan.

Sedangkan pemimpin bergaya pengusaha bisa menghasilkan sesuatu dengan lebih instan. Kreativitas dan berani mengambil risiko jadi karakter utama pemimpin yang punya gaya pengusaha.

Pemimpin bergaya pengusaha sulit mengambil posisi netral. Dia lebih memilih berada di posisi diyakininya, baik itu di kanan maupun kiri. Keberanian mengambil posisi ini punya konsekuensi berhadapan dengan pihak lain.

Kemampuan mengambil terobosan yang dimiliki pemimpin berlatar pengusaha ini yang bisa cepat menghasilkan keuntungan instan. Ibarat berdagang, dengan kalkulasi tepat maka uang bisa cepat pula dihasilkan.

Dalam konteks memimpin kota misalnya, infrastruktur fisik bisa terlaksana secara lebih cepat di tangan pemimpin bergaya pengusaha ini.

Dalam kacamata positif, pemimpin dengan gaya pengusaha ini sangat baik bila berada di sisi rakyat. Namun sebaliknya, bila mengambil posisi berhadapan dengan rakyat kecil maka konsekunsinya kemiskinan dan kesenjangan semakin tinggi. Ujung-ujungnya pemimpin seperti ini bisa memproduksi konflik yang besar.

Sedangkan pemimpin bergaya ilmuan akan menghasilkan sesuatu yang substantif. Bukan sekadar membangun fisik, tapi sistem yang mampu dibangun.

Pemimpin dengan karakter seperti ini pun sulit berada di tengah. Akan ada pihak pro dan kontra terkait sistem yang dibangun.

Dalam kacamata positif, gaya kepemimpinan seperti ini akan mewariskan pembangunan jangka panjang. Siapa pun pemimpin yang akan meneruskannya kelak, akan terbantu dengan dengan warisan sistem yang dihasilkan oleh sang pemimpin berkarakter ilmuan.

Namun, pemimpin berkarakter seperti ini juga punya risiko sistem yang jadi konsepnya gagal dieksekusi. Sebab, pelaksanaanya tak selamanya mampu semudah menghafalkan rumus-rumus.

Dengan faktor plus dan minusnya maka segala pilihan tersaji bagi masyarakat Jakarta. Apakah anda menginginkan pemimpin yang menghadirkan stabilitas tapi membosankan. Atau berani memilih pemimpin menawarkan kemajuan fisik, namun penuh konflik. Atau pemimpin yang membawa kemajuan manusia, tapi bisa sekadar kemajuan retorika?

Yang jelas pemimpin yang menekankan stabilitas sulit diharapkan mampu merevolusi dengan cepat kondisi yang ada saat ini. Mesti kemajuan yang akan dicapai akan sangat niscaya, tapi butuh kesabaran untuk mencapainya.

Tapi di sisi lain, stabilitas adalah kunci dasar sebuah kemajuan. Ibarat Anda ingin membangun sebuah rumah, stabilitas adalah uang yang bisa digunakan untuk membeli material bangunan maupun membeli konsep rancangan rumah impian.

Sedangkan pemimpin yang menekankan kemajuan fisik sulit diharapkan mampu menggaransi kemajuan manusia. Sebab, fisik dahulu yang dikedepankan untuk lebih maju, ketimbang manusianya. Sehingga yang akhirnya bisa menikmati kemajuan fisik adalah manusia yang sudah maju saja.

Ini seperti Kalijodo yang nyatanya hanya menggusur lahan orang miskin demi memberi sarana hiburan utama bagi orang kaya, yakni skate park dan arena BMX. Rumah rakyat kecil pinggiran sungai pun digusur, tapi mal di pinggir kali makin merajalela.

Membangun fisik secara cepat mengingatkan kita pada Indonesia di masa penjajahan VOC Belanda. Trem mampu dibangun sekejap. Kita tentu juga ingat pembangunan Jalan Anyer-Panarukan.

Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels mampu membangun fisik akses transportasi utama sejauh ratusan kilometer. Di era penjajahan pemerintahan korporat Belanda itu, fisik jalan sejauh sekitar 1.000 kilometer mampu dibangun hanya dalam 56 tahun (1762-1818). Padahal era itu, kemajuan teknologi masih sangat terbatas.

Saat jalan terbangun, tentara Belanda dan bangsawan yang menjadi penikmat utamanya. Sementara rakyat dibiarkan tetap bodoh dan menderita di tengah kemajuan.

Sebaliknya, pemimpin yang menekankan kemajuan manusia butuh eksekutor andal untuk melaksanakannya. Namun, tak selamanya konsep sesuai dengan eksekusi.

Bila dianalogikan, di Indonesia banyak pengamat sepak bola dengan konsep serta analisis kelas dunia. Namun, untuk menemukan 11 eksekutor di lapangan sekelas Asia Tenggara saja sampai hari ini Indonesia belum bisa.

Tapi jika konsep dan eksekusi pembangunan manusia mampu berbanding lurus, maka kemajuan yang dihasilkan akan masif. Sebab, yang dihasilkan bukanlah seorang pemimpin yang mampu mengubah sebuah kondisi fisik semata. Melainkan pemimpin yang bisa memacu tumbuhnya sistem masyarakat yang mampu mengubah nasibnya sendiri.