Berikut Pengakuan Mengejutkan dari Para Pengikut Dimas Kanjeng

0
687

Kesaktian Dimas Kanjeng Taat Pribadi melambung dan membuatnya banyak dikagumi orang. Pada tahun 2006, ketika Dimas Kanjeng membuat padepokan. Hanya dalam waktu setahun, dua ribu orang langsung jadi pengikut setianya.

Dan dalam waktu singkat juga, lahan padepokan yang awalnya cuma dua hektare, bekal dari istri Dimas Kanjeng pun bertambah menjadi tujuh hektare pada tahun 2012. Dan konon, dari ‘kesaktian’ itu juga Dimas Kanjeng bisa mengumpulkan 23 ribu pengikut se-Indonesia.

Di Probolinggo, nama besar Dimas Kanjeng nan sakti yang bisa menggandakan uang bukan kabar baru. Seluruh pelosok termasuk di sejumlah wilayah Indonesia, nama Dimas Kanjeng tak perlu diragukan lagi.

Karena itu, banyak orang hendak menjadi santri di padepokan milik Taat Pribadi. Mulai dari warga biasa, polisi, TNI, pejabat bahkan hingga pejabat daerah pun terbius pesona Dimas Kanjeng.

Dan sebagai penambah keyakinan pengikut. Di padepokan ini juga kerap digelar pengajian dan istighasah sehingga semua orang meyakini bahwa apa yang dijalankan Taat Pribadi sesuai syariat Islam.

Tak ada syarat susah untuk menjadi santri disini. Cukup bayar mahar dengan nominal tertentu dan aktif pengajian. Nanti, mahar-mahar itu akan digandakan oleh Dimas Kanjeng. Kabarnya, uang Rp1 juta akan digandakan menjadi 100 kali lipat atau menjadi Rp1 miliar.

Semakin banyak uang titipan, maka semakin besar uang pengganda yang didapat penyetornya. Lalu bagaimana syarat agar uang itu bisa didapat kembali? Dari berbagai informasi terhimpun, prasyarat wajib yang harus dimiliki penyetor adalah ikhlas.

Ya, ikhlas atau dengan kata lain menyerahkan sepenuhnya tanpa ada perasaan menyesal uang kepada Dimas Kanjeng. Tidak ikhlasnya penyetor akan membuat semakin lama uang mereka kembali. Dan satu catatan pentingnya adalah uang yang disetor itu, tidak menggunakan bukti kuitansi.

Singkatnya, Dimas Kanjeng di balik padepokan pengajiannya itu membuat Bank Gaib. Ia sebagai pemimpinnya mengumpulkan uang dari pengikutnya lalu menarik kembali uang yang disimpan di bank gaib tersebut. Dan tentunya, bank gaib itu bisa membuat uang yang disimpan menjadi berlipat-lipat ganda.

“Kemampuan menggandakan uang Dimas Kanjeng itu anugerah tuhan,” ujar seorang pengikut setia Dimas Kanjeng, Marwah Daud Ibrahim.

Marwah Daud memang bukan orang sembarangan. Perempuan yang sempat dikenal sebagai cendikiawan muslim dan peneliti Bank Dunia itu adalah Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng.

Di minggu ketiga September 2016. Secara mengejutkan ribuan personel polisi menyerbu kediaman Dimas Kanjeng. Padepokan seluas tujuh hektare itu pun penuh sesak polisi bersenjata lengkap.

Mirip drama penangkapan teroris. Rumah Dimas Kanjeng memang diserbu polisi. Rupanya, pria yang pernah dikeluarkan di salah satu kampus di Malang itu dituduh membunuh.

Si raja duit glamour ini dianggap bertanggungjawab atas penemuan dua mayat pria yang ternyata adalah mantan pengikutnya pada bulan April 2016. Pertama, Ismail Hidayah yang dibunuh pada 2 Februari 2015 dan kedua, Abdul Gani yang mayatnya ditemukan mati di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri pada April 2016.

“Korban dinilai menghambat padepokan, maka harus dibunuh,” kata Kepala Sub Direktorat III Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Taufik Herdiansyah Z.

Tak ayal penangkapan Taat Pribadi pun membuat heboh. Ribuan personel polisi yang diterjunkan ke Padepokan Dimas Kanjeng sempat mengeluarkan gas air mata untuk menghalau para pengikutnya sebelum berhasil mencokok sang raja.

Alhasil, dari pemeriksaan polisi. Dari sejumlah bukti dan keterangan saksi, Dimas Kanjeng Taat Pribadi rupanya memang terbukti melakukan pembunuhan. Ia disangka menjadi dalang dari dua pembunuhan pengikutnya tersebut.

Bersama lelaki bertubuh tambun ini polisi akhirnya menetapkan 10 tersangka lainnya. “Dua korban itu diduga otak tersangkanya Dimas Kanjeng,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Timur Kombes Pol RP Argo Yuwono, Selasa, 27 September 2016.

Dari pemeriksaan juga terungkap jika ada tiga di antara pelaku ternyata adalah pecatan perwira TNI yang ikut menjadi pengikut Dimas Kanjeng. Seluruh pelaku disebut dibayar honor ratusan juta rupiah.

Namun demikian lucunya, ketika ditanya kepada para pengikut soal penangkapan Dimas Kanjeng. Konyolnya para pengikut ini justru tidak mempercayai. Yang mereka percayai adalah bahwa yang ditangkap itu bukan Dimas Kanjeng. Pria bertubuh tambun klimis itu dianggap para pengikut adalah sosok lain yang menyerupai Dimas Kanjeng. Sebabnya, uang saja bisa digandakan oleh Dimas Kanjeng, apalagi dirinya sendiri.

“Dimas Kanjeng bisa menjadi sembilan. Yang ditangkap polisi itu bukan yang asli,” kata seorang perempuan asal Pangandaran yang menceritakan keyakinan kakaknya yang kini menjadi pengikut Dimas Kanjeng di Probolinggo.

Belakangan, setelah tertangkapnya pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng. Akhirnya mulai terkuak kasus penipuan yang dilakukannya. Sebabnya, kematian dua pengikutnya sebelumnya memang berkaitan dengan laporan penipuan yang kabarnya dilakukan oleh Abdul Gani dan Ismail Hidayah.

Fenomena bank gaib yang bisa menggandakan uang yang dilakoni oleh Dimas Kanjeng, harus diakui memang mengejutkan. Sebabnya, jumlah uang yang konon dititipkan kepadanya bukan jumlah sepele.

Seperti yang dilaporkan oleh anak bungsu almarhumah Najmiah, Muhammad Najmur. Lelaki asal Makassar Sulawesi Selatan ini tiba-tiba angkat suara usai tertangkapnya Dimas Kanjeng.

Dalam laporannya di Polda Jawa Timur, uang yang pernah dititipkan ibunya mungkin terbesar di antara para pengikut lainnya yakni mencapai Rp200 miliar.

Uang itu telah disetor bertahap oleh ibunya Najmiah sejak dua tahun. “Nilai setor totalnya Rp200 miliar,” kata Najmur di Surabaya, Jumat, 30 September 2016.

Seperti pengikut lainnya, ibu dai Najmur ini pernah diimingi uang yang dititip itu akan dikembalikan berlipat-lipat dari nominal awal. Dan sebagai jaminan, ia pun akhirnya diberikan uang dalam bentuk rupiah dan asing. Termasuk emas batangan. “Uang dan emas palsunya kami jadikan barang bukti,” kata Akbar Faizal, anggota DPR yang mendampingi Najmur saat melapor ke Polda Jawa Timur.

Sejauh ini yang terang-terangan bersuara membela Dimas Kanjeng baru Marwah Daud Ibrahim. Perempuan cerdas yang dikenal sebagai mantan Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu, bahkan nekat mendatangi Mabes Polri hanya untuk meminta penangguhan penahanan dan memprotes penangkapan Dimas Kanjeng seperti teroris.

“Pakaian (anggota polisi) lengkap, ibarat (mau melakukan) penangkapan mungkin teroris,” ujar Marwah Daud Ibarahim di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin 26 September 2016.

Tak jelas alasan Marwah Daud sebegitunya mempercayai Dimas Kanjeng. Namun perempuan asli Sulawesi Selatan yang pernah duduk sebagai anggota DPR tiga periode dan pernah menjadi asisten peneliti di Bank Dunia itu betul-betul pasang badan soal Dimas Kanjeng. “Dia aset untuk Indonesia,” kata Marwah dengan yakin.

Bahkan, begitu percayanya Marwah terhadap Dimas Kanjeng, perempuan berhijab ini berani menantang agar Taat Pribadi diizinkan untuk melakukan atraksinya menarik uang gaib di hadapan Presiden Joko Widodo. “Jika diizinkan melakukan ritual, kami akan datangkan uang di hadapan Presiden,” kata perempuan lulusan American University tersebut pada Selasa, 27 September 2016.

Yang mengejutkan justru pengakuan salah satu pengikut yang sadar telah korban penipuan uang yang dilakukan Dimas Kanjeng. Saksi kunci ini bernama M. Junaedi. Junaedi mengaku sempat menjadi target kedua untuk dibunuh, setelah Ismail Hidayah.

“Saya berani melapor setelah melihat tayangan televisi, ditangkapnya Taat Pribadi, dan pernyataan Marwah Daud yang begitu getolnya membela mati-matian Taat Pribadi,” katanya di ruang SPKT Mapolres Probolinggo.

Junaedi merupakan warga Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Rumahnya pernah menjadi sasaran pelemparan bondet oleh orang tak dikenal. Ketika dia melapor ke posko pengaduan korban Dimas Kanjeng di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Mapolres Probolinggo, dokumen-dokumen yang dipunyainya pun diserahkan.

Antara lain, foto Junaedi bersama Dimas Kanjeng. Foto Junaedi bersama Mishal Budiarto alias Sahal yang kini telah menjalani hukuman dalam kasus pembunuhan terhadap Ismail Hidayah. Kemudian foto tumpukan uang. Foto itu persis seperti yang terlihat di video ketika Taat Pribadi sedang menghitung uang di hadapan para lelaki bertelanjang dada.

Junaedi mengaku tahu seluk beluk aliran dana Taat Pribadi secara tidak sengaja pada 2011. Saat itu, nama padepokan Dimas Kanjeng belum dikenal seperti sekarang. Doktor Marwah Daud Ibrahim ketika belum bergabung ke padepokan.

Menurut Junaedi untuk memuluskan niat agar Marwah Daud bergabung, Taat Pribadi menggunakan cara khusus. Taat Pribadi, katanya, menelepon Marwah Daud yang ketika itu berada di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dimas Kanjeng berupaya meyakinkan Marwah bahwa Taat Pribadi bisa mengutus jin untuk mengirim uang tunai kepada Marwah Daud. Benar saja, saat Marwah membuka pintu rumahnya, kata Junaedi, sudah ada dua koper uang tunai pecahan seratus ribu rupiah.

“Tapi sebenarnya itu bukan jin yang membawa. Melainkan almarhum Ismail (korban pembunuhan) yang mengantar ke sana. Baru setelah uang sampai, dan Ismail pergi, Taat menelepon Marwah untuk mengecek keberadaan uang tersebut,” ujarnya.

Aksi itu, katanya, berhasil membuat Marwah yang merupakan politikus dan cendekiawan muslim terkesima dengan kelebihan Dimas Kanjeng, hingga menyebutnya memiliki karomah.

Junaedi mengaku jadi pengikut Dimas Kanjeng karena hipnotis yang disertakan dalam kaset VCD rekaman Dimas Kanjeng saat menaruh uang. Junaedi mulai curiga pada padepokan sekitar akhir 2014.

Ketika itu, dia sering melihat Ismail bertengkar dengan pengikut padepokan yang lain soal pencairan uang. Firasat buruknya pun terbukti, Ismail tewas dibunuh. Waktu itu belum ketahuan siapa pelakunya.

Padahal, kata Junaedi, niat Ismail ketika itu hanya ingin meminta padepokan mengembalikan uang pengikut.

“Mereka itu tak ubahnya memperkaya diri sendiri dan pengikut setianya, sementara umat yang lain, dijadikan ATM berjalan, untuk mengeruk uang,” kata lelaki berusia 49 tahun.