Benarkah Pernyatan Habib Rizieq ini Termasuk Hate Speech

0
400

Juru Bicara pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), Ansy Lema mengatakan, pernyataan Habib Rizieq di muka umum, dengan ‘mengajak dan menghasut’ orang untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap Ahok merupakan bentuk hate speech atau penyebar kebencian.

“Secara eksplisit ia telah menebar kebencian beraroma SARA, bahkan mengajak melakukan tindak kekerasan. Jelas tindakan tersebut melanggar hukum dan karenanya harus dipidana,” ujar Ansy Lema, di Jakarta, Senin (17/10/2016).

Menurutnya, kebebasan individu tidak bersifat mutlak. Kebebasan individu ada batasnya, yakni dibatasi oleh kebebasan individu lainnya (the movement of my hand is limitted by other nose). Prinsipnya, kebebasan individu tidak boleh mengancam kebebasan individu yang lainnya.

Karena itu, kemerdekaan menyatakan pendapat tidak berarti bisa bebas bicara apa saja. Sebab, dalam tatanan demokrasi, prinsipnya kebebasan individu tidak boleh mengancam kebebasan individu lainnya,karena demokrasi tidak hanya bersenyawa dengan kebebasan, tapi juga dengan ketertiban dan keteraturan (order beyond the freedom), ujarnya.

“Ini hakekat demokrasi yang bermartabat dan bertanggung jawab. Apalagi, kita tahu bahwa sejatinya salah satu tujuan dasar dari dibentuknya negara adalah untuk melindungi hak hidup warganya, bukan justru meniadakan hak hidup individu,” papar alumni hubungan internasional di Universitas Nasional (Unas) Jakarta itu.

Masih menurut Yohanes Fransiskus Ansy Lema, Negara wajib menjaga hak hidup individu. Hak hidup adalah hak asasi yang melekat pada setiap individu warga negara. Karena itu, negara wajib melindungi hak hidup warganya.

“Ini amanat konstitusi. Maka, terhadap aksi Habib Rizieq yang telah secara jelas mengancam hak hidup pihak lain, negara mestinya bersikap tegas terhadapnya karena ia telah terbukti mengancam hak hidup individu orang lain. Negara tidak bisa mendiamkannya, sebab jika mendiamkan maka sama dengan negara melakukan kekerasan dengam pembiaran (violence by omission),” tegas Ansy Lema.