Apa Arti Persekusi, Apa Contoh Persekusi, Apa Hukuman Pelaku Persekusi?

0
475

Apa Itu Arti Kata Persekusi, Pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah atau ditumpas, merupakan penjelasan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia terkait kata persekusi.

Banyak yang menganggap kasus penistaan Agama yang menyeret Tjahaja Purnama alias Ahok ke penjara memiliki peranan dalam peningkatan aksi persekusi.

Maka dari itu, saat ini mulai merebak tindakan tersebut yang disebut sebagai Efek Ahok (The Ahok Effect) yag terjadi hampir di seluruh Indonesia.

Pola Persekusi

Pola dari Persekusi ini terdiri atas 4 tahapan, diantaranya:

a. Mentrackdown identitas orang-orang yang menghina ulama/Agama.

b. Menginstruksikan massa agar memburu target yang sudah disebarkan identitas, foto alamat kantor/rumahnya.

c. Aksi gruduk ke kantor/rumahnya oleh para massa.

d. Dibawa ke polisi dengan dikenakan Pasal 28 Ayat 2 UU ITE atau pasal 156a KUHP.

Kasus Persekusi yang Sedang Hangat-Hangatnya Saat ini

Kasus persekusi yang baru saja terjadi dan menjadi sorotan media menimpa kepada seorang remaja berusia 15 tahun bernama Mario Alvian, ia tinggal di Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Para Anggota Front Pembela Islam (FPI) menyantroni rumah Mario dikarenakan status Facebook yang diunggahnya dianggap melecehkan Habib Rizieq Syihab dan FPI.

Bolehkah Melakukan Persekusi?

Tindakan persekusi ini sangat tidak diperbolehkan, karena ini sama saja dengan main hakim sendiri. Apabila kamu melakukannya, justru kamu dinilai sebagai seorang yang telah melanggar hukum di Indonesia.

Contohnya apabila kamu melakukan presekusi dengan sebuah ancaman, penganiayaan sampai dengan pengeroyokan, maka pelaku atau kelompok yang melakukan presekusi dapat dikenakan pasal-pasal dalam KUHP.

Seperti Pasal 368 tentang pengancaman, Pasal 351 tentang penganiayaan dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Sebenarnya, jika memang orang tersebut melakukan pencemaran nama baik melalui media sosial, kamu dapat melaporkannya dengan Pasal 27 Ayat 3 UU ITE.

Selain itu, postingan seseorang di media sosial yang dapat menyebabkan permusuhan dan kebencian (SARA), kamu dapat melaporkannya dengan Pasal 28 Ayat 2 UU ITE.

Koordinator Regional SAFEnet, Damar Juniarto mengungkapkan kasus persekusi yang dialami Mario bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Selama 2017, pihak mereka menemukan sekitar 60 kasus serupa.

Ia menyarankan apabila mengalami sejumlah tindakan yang diduga adalah persekusi, segeralah melapor ke pihak kepolisian.

Ancaman Hukuman ke Pelaku Persekusi

Sementara itu, Kabag Mitra Biro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono mengatakan tindakan persekusi itu bisa diancam pidana. Awi menyebutkan setidaknya ada tiga pasal dalam KUHP yang bisa digunakan untuk menjerat pelaku persekusi.

“Pelaku atau kelompok yang melakukan persekusi dapat dikenai pasal-pasal dalam KUHP, seperti pengancaman pasal 368, penganiayaan 351, pengeroyokan 170, dan lain-lain,” kata Awi dalam keterangannya, Kamis (1/6).

Pasal 368 KUHP mengatur tentang pemerasan dan pengancaman. Pasal 368 KUHP Ayat 1 berbunyi ‘Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan’.

Sedangkan Pasal 351 KUHP Ayat 1 berbunyi ‘Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah’.

Sementara itu, dalam Pasal 170 Ayat 1 disebutkan ‘Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan’.

Awi menegaskan, bila menemukan posting di media sosial yang dirasa meresahkan, masyarakat diminta tidak main hakim sendiri. Awi meminta masyarakat melaporkan ke polisi.

“Melaporkan ke polisi untuk dilakukan tindakan kepolisian, baik yang bersifat preventif maupun penegakan hukum. Tidak melakukan tindakan persekusi karena perbuatan tersebut dapat dipidana,” ucap Awi.