Aksi Tandingan Hanya Akan Memperkeruh Suasana dan Memecah Bela

0
234

Setelah aksi Bela Islam jilid III yang dikenal dengan aksi 2 Desember 2016, muncul aksi yang seolah jadi tandingan. Aksi yang mengaku ingin memperlihatkan Kebhinekaan di Indonesia itu dinamakan Aksi Kita Indonesia.

Dosen Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai tak perlu lagi digelar aksi-aksi tandingan semacam ini. Menurutnya ‘Kita Indonesia’ ini tak memiliki tujuan yang jelas.

“Aksi Kita Indonesia merusak itu. Urgennya enggak ada malah memecah-mecah. Saya memang tidak hadir, tapi saya lihat foto yang beredar banyak atribut partai, dan substansinya nihil. Apa maksud mereka teriak Kita Indonesia? Memangnya selama ini ada yang bilang kita bukan Indonesia?” ujar Hendri.

Tak cuma atribut partai Golkar dan Nasdem berkibar, aksi ini juga mengganggu masyarakat yang hendak berolahraga di Car Free Day yang harusnya bebas dari kegiatan politik. Beredar pula pengakuan sejumlah orang dibayar supaya ikut hadir.

Aksi Kita Indonesia, kata Hendri, sebetulnya sangat mengganggu cara ‘cantik’ Presiden Joko Widodo (Jokowi) meredam kemarahan massa Aksi Bela Islam Jilid III. Cara ‘cantik’ yang dimaksud Hendri yakni Jokowi memutuskan melakukan salat Jumat bersama pendemo di Halaman Monas.

“Apa pun tujuan yang dilakukan hari ini mengganggu cara cantik Jokowi menurunkan tensi politik. Esensi dan urgensinya enggak ada,” kata dia.

Hendri menambahkan, tidak ada pihak yang bisa menjamin Umat Islam tak akan melakukan aksi lanjutan Jika pemerintah tidak memenuhi keinginan mereka soal Ahok yang diduga melakukan penistaan agama. Berhenti atau lanjutnya aksi Bela Islam ditentukan oleh pemerintah dan penegak hukum di Tanah Air.

Jadi kuncinya ada di penegakan hukum. Bukan dengan aksi-aksi tandingan semacam yang malah mengadu anak bangsa.