Akhir Pilu Dari Kisah Sedih Bayi Deborah

0
159
Akhir Pilu Dari Kisah Sedih Bayi Deborah

Tangis dan haru begitu dirasakan oleh Henny Silalahi yang baru saja ditinggal pergi buah hatinya tercinta, Deborah Simanjorang, yang baru berusia empat bulan.

Baca Juga : Hasil Rapimnas SOKSI Pastikan Usung Jokowi di Pilpres 2019

Kepergian Deborah menimbulkan rasa kecewa dalam hati Henny terhadap pelayanan salah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Barat.  Henny merasa, apa yang dilakukan rumah sakit itulah yang membuat nyawa putrinya melayang.

Sudah empat hari Deborah meninggal dunia. Henny masih berusaha ikhlas melepas kepergian anak nomor empat yang amat ia cintai itu. Namun, di sisi lain, ia masih sakit hati mengingat peristiwa 3 September 2017 dini hari.

Sekitar pukul 03.00 WIB, dia bersama sang suami membawa Deborah yang mendadak sesak napas. Yang di pikirkannya saat itu sang anak harus segera mendapat pertolongan, tanpa tahu apakah rumah sakit itu menerima pelayanan BPJS Kesehatan atau tidak.

“Sampai di rumah sakit Mitra Keluarga. Karena ini keadaan yang emergency, anak saya dimasukkan ke UGD dan langsung ditangani dokter. Dokter kemudian mengatakan, anak saya harus dimasukkan ke ruang PICU (Perinatology Intensive Care Unit),” kata Henny.

Henny ikut saja, dan menyerahkan sepenuhnya penanganan anaknya ke pihak rumah sakit. Bagi Henny, dokter lebih tahu dan lebih mengerti tindakan terbaik untuk sang anak.

Akan tetapi, Henny tersadar, biaya pelayanan PICU tidak murah. Satu malam saja, cukup menguras kantong.

“Bagian administrasi bilang, untuk bisa masuk ke PICU harus DP Rp 19 juta dulu. Minimal 50 persen dulu, kira-kira Rp 11 juta,” kata Henny.

Tak ada uang tunai sebanyak itu yang Henny dan suami pegang hari itu. Hanya ada uang Rp 7 juta, yang mana sudah terpakai Rp 2 juta untuk biaya administrasi, ambil darah, dan rentetan prosedur lainnya. Sisa uang Henny tinggal Rp 5 juta.

Henny berusaha agar bagian administrasi mau menerima uang sebesar itu sebagai jaminan. Upaya dia sia-sia, lantaran ditolak. Pihak administrasi mau Henny menyetorkan uang seperti yang disebutkan di awal agar Deborah segera dimasukkan ke PICU.

“Saya sudah bersimpuh, dan berjanji akan mengasih kekurangan itu. Mereka tetap bilang enggak bisa. Saya bilang ke mereka, saya pasti bayar. Saya bekerja, kok, tidak mungkin tidak dibayar,” kata Henny.

Henny pun terus meyakinkan pihak rumah sakit. Namun, permintaannya tetap ditolak.

“Saya kemudian menghubungi beberapa teman, meminta tolong mereka mencarikan rumah sakit yang ada ruang PICU dan menerima pasien BPJS Kesehatan,” kata Henny.

“Dapat, tapi pihak rumah sakit itu harus tahu kondisi anak saya sebelum dipindahkan,” kata Henny menambahkan.

“Saya sedih. Saya mengangkat jenazah anak sendiri, sedangkan respons dokter hanya seperti itu. Ia cuma bilang turut berbelasungkawa, kemudian kembali duduk ke meja kerjanya,” kata Henny lagi.