10 Tokoh yang Kiprahnya Paling Menarik Perhatian Sepanjang 2016

0
349

Di era digital inii, Google biasanya jadi tempat awal jika kita ingin mengetahui sesuatu, termasuk rasa penasaran mengenai profil atau berita dari para tokoh yang sedang hangat dibicarakan. Berikut 10 tokoh yang paling banyak dicari sepanjang 2016 di Google Indonesia.

1. Basuki Tjahja Purnama (Ahok)
Sebenarnya Basuki Tjahja Purnama alias Ahok hanya memimpin satu dari 33 provinsi di Indonesia. Tapi, sosoknya begitu menonjol dan popular ke seantero Indonesia. Gaya kepemimpinannya yang lugas dan tegas, termasuk dalam pemberantasan korupsi, bisa jadi merupakan sosok pemimpin dambaan bangsa Indonesia selama ini. Apalagi, selama kepemimpinannya, Ahok sedikit demi sedikit membawa perubahan bagi Jakarta. Meski banyak yang pro, ada juga yang kontra. Tapi, baik pro dan kontra, semua penasaran akan sosoknya yang langka selama ini. Karena itu, Ahok menjadi tokoh paling dicari di Google Indonesia sepanjang 2016.

2. Sri Mulyani Indrawati
Setelah 6 tahun berkiprah menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, Sri Mulyani kembali ke Indonesia untuk menjabat sebagai Menteri Keuangan RI pada Kabinet Kerja Jilid II. Dirinya diminta Presiden Joko Widodo untuk menggantikan Bambang Brodjonegoro. Sebelumnya, Sri Mulyani pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan juga pada masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yughoyono. Salah satu prestasinya adalah meminimalisir korupsi dalam lembaga keuangan yang dipimpinnya.  Wanita terkuat dunia ke-37 tahun 2016 versi Majalah Forbes itu diharapkan mampu membawa pasar keuangan Indonesia ke arah yang positif. Ia juga satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar 100 Top Global Thinkers 2012 versi Foreign Policy.

3. Buni Yani
Buni Yani adalah seorang dosen komunikasi di sebuah universitas swasta di Jakarta. Buni juga meraih gelar Master of Arts dalam studi Asia Tenggara di Universitas Ohio, Amerika Serikat.  Nama Buni Yani popular setelah dirinya diduga sebagai orang yang mengedit dan mengunggah video pidato Ahok di akun Facebooknya dengan caption yang diduga memprovokasi. Video editan Buni Yani tersebut kemudian menimbulkan beragam pendapat di masyarakat hingga meluas menyentuh masalah SARA, berakibat diadilinya Ahok. Buni Yani kemudian ditetapkan menjadi tersangka penghasutan SARA dengan jeratan Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Setelah munculnya kasus SARA tersebut, Buni mengundurkan diri dari profesi dosennya.

4. Wayan Mirna Salihin
Kasus terbunuhnya Wayan Mirna Salihin setelah meminum kopi Vietnam di Cafe Olivier, Grand Indonesia, Rabu (6/1/2016), begitu menyedot perhatian publik. Dalam kasus ini, Jessica Kumala Wongso, yang tak lain adalah sahabat dekat Mirna, menjadi terdakwa kasus tersebut. Namun demikian, banyak teori dan spekulasi yang muncul tentang motif dan siapa pelaku yang sesungguhnya.

5. Nusron Wahid
Nama Nusron Wahid muncul setelah dirinya tampil di sebuah acara dialog di sebuah televisi swasta yang saat itu membahas kasus penistaan agama yang dituduhkan pada Ahok. Dalam acara tersebut, Nusron berani mengkritik Majelis Ulama Indonesia dan membela Ahok. Akibatnya, Nusron diserang dengan sebutan munafik, melindungi kafir, dan hingga soal keaslian namanya.

6. Agus Yudhoyono
Agus Harimurti Yudhoyono adalah putra pertama dari mantan presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Pria kelahiran 10 Agustus 1978 ini telah berkarier selama 16 tahun di bidang militer dan terakhir berpangkat Mayor Infanteri. SAgus dikenal memiliki prestasi gemilang di bidang militer dan berpotensi menjadi jenderal terkemuka di Indonesia. Pada bulan September 2016, Agus menyatakan ikut dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, yang diusung koalisi Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PAN. Keputusannya terjun ke dunia politik membuat Agus harus melepas jabatan sebagai perwira militer di TNI Angkatan Darat .

7. Tito Karnavian
Jenderal Polisi H. M Tito Karnavian ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Kepolisisan Negara Republik Indonesia (Kapolri) mulai tanggal 13 Juli 2016, menggantikan Jenderal Poilisi BadrodinHaiti yang pensiun. Sebelumnya Tito menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Tito pernah bergabung dalam tim Densus 88 yang berhasil membasmi terorisme di Indonesia. Beberapa teroris yang pernah dibekuk Tito dan tim Densus antara lain teroris Dr. Azahar, tersangka kasus Poso, juga Noordin M Top. Dan, selama menjabat Kapolri, Tito telah beberapa kali menggagalkan rencana aksi terorisme serta mengendalikan demo besar-besaran 411 dan 212.

8. Fahri Hamzah
Fahri adalah Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 yang dikenal dengan pernyataan-pernyataan kontroversialnya. Dirinya merupakan politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namun, tahun ini, Fahri dipecat oleh PKS dengan alasan sikapnya selalu bertentangan dengan partai. Pemecatan ini kemudian dibawa Fahri ke pengadilan dan dimenangkannya. Selain itu, Fahri diduga memberi pernyataan bernilai provokatif pada demo 411 setelah mengatakan ada dua cara menurunkan Presiden Jokowi, yaitu melalui impeachment (pemakzulan) di gedung MPR/DPR dan melalui parlemen jalanan.

9. Irman Gusman
Irman adalah Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2014 – 2019. Namun, jabatan tersebut dicopot beberapa waktu lalu setelah dirinya tertangkap tangan melakukan tindak pidana korupsi kasus dugaan suap rekomendasi penambahan kuota distribusi gula impor wilayah Sumatera Barat pada tahun 2016. Kuota distribusi ini diberikan Bulog kepada CV Semesta Berjaya. Irman Gusman selaku penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor).

10. Arcandra Tahar
Baru 20 hari menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Kabinet Kerja Jilid II, Arcandra Tahar dicopot posisinya setelah berkembang isu dwikewarganegaraan. Status jabatan menteri harus memenuhi persyaratan, yaitu sebagai WNI yang diatur dalam Pasal 22 UU No.39/2008 tentang Kementerian Negara. Arcandra dianggap tidak memenuhi syarat tersebut karena memiliki dwikewarganegaraan. Padahal, Arcandra adalah ahli kilang lepas pantai dan berpengalaman di bidang sumber daya mineral. Akhirnya, Presiden Joko Widodo kembali mengangkat Arcandra dalam kabinetnya dengan menjadi Wakil Menteri ESDM, mendampingi Ignasius Jonan.